Kamis, 29 Januari 2026

AGAR TIDAK GAGAL DI BULAN RAMADHAN | SYAIKH YAZID BIN ABDUL QADIR JAWAS RAHIMAHULLAH

 




Sekarang kita akan masuk ke pembahasan yang berkaitan dengan masalah puasa. Insyaallah kita cukupkan dengan waktu yang ada. Mudah-mudahan pembahasan ini bisa tersampaikan dengan baik.

Sebelum masuk ke pembahasan puasa, ada beberapa hal yang perlu kita bahas terlebih dahulu. Puasa merupakan kewajiban dan termasuk rukun Islam. Sebagian ulama menyebutkan puasa sebagai rukun yang keempat, dan sebagian menyebutkannya sebagai yang ketiga. Semua pendapat tersebut benar, karena perbedaan penyebutan urutan tidak mengubah hakikat kewajibannya.

Ikhwan fiddin rahimakumullah,

Berkaitan dengan penyambutan Ramadan, kita melihat banyak penyimpangan yang masih terjadi di tengah masyarakat. Di berbagai tempat, penyambutan Ramadan dilakukan dengan berbagai macam acara. Di antaranya terdapat beberapa tradisi yang menyimpang dari tuntunan syariat.

Di antaranya adalah tradisi nyekar. Nyekar adalah ziarah kubur dengan tujuan tertentu seperti menjemput arwah leluhur, menabur bunga, dan berbagai ritual lainnya. Ziarah kubur pada dasarnya disyariatkan dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa beliau dahulu melarang ziarah kubur, kemudian membolehkannya karena ziarah kubur dapat mengingatkan kepada akhirat.

Tujuan ziarah kubur yang disyariatkan ada tiga. Pertama, mengucapkan salam kepada penghuni kubur. Kedua, mendoakan orang yang telah meninggal dunia karena mereka membutuhkan doa dari orang yang masih hidup. Ketiga, agar orang yang berziarah mengingat kematian dan akhirat. Tiga tujuan inilah yang dibenarkan dalam Islam.

Namun, ketika ziarah kubur disalahgunakan, seperti mendatangi kubur wali atau orang saleh dengan tujuan meminta rezeki, jodoh, jabatan, kemenangan dalam pemilihan, atau keberkahan tertentu, maka perbuatan tersebut termasuk kesyirikan. Meminta kepada orang yang telah meninggal adalah perbuatan yang tidak masuk akal secara logika dan bertentangan dengan syariat.

Tidak pernah ada satu pun sahabat Nabi yang mendatangi kubur Rasulullah untuk meminta pertolongan ketika terjadi musibah, peperangan, atau bencana. Mereka semua meminta kepada Allah semata. Hanya Allah yang mampu menghilangkan bahaya dan memberikan manfaat.

Allah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada yang dapat menghilangkan musibah kecuali Dia. Oleh karena itu, ziarah kubur dengan tujuan meminta sesuatu kepada selain Allah adalah perbuatan yang tidak dibenarkan dan termasuk syirik.

Sayangnya, praktik ini masih banyak dilakukan. Bahkan ada yang datang beramai-ramai dengan kendaraan besar. Sedikit sekali yang mengingatkan. Padahal mengingatkan adalah bentuk kasih sayang kepada sesama muslim. Syirik adalah dosa besar yang menghapus seluruh amal dan tidak akan diampuni jika pelakunya meninggal dalam keadaan belum bertaubat.

Orang yang telah meninggal, meskipun dia seorang wali, tidak dapat mendengar permintaan manusia. Allah menegaskan bahwa manusia tidak mampu memperdengarkan orang-orang yang berada di dalam kubur. Jika mereka berdoa kepada selain Allah, maka doa tersebut tidak akan didengar dan tidak akan dijawab.

Selain itu, ada pula tradisi menentukan waktu khusus untuk ziarah kubur menjelang Ramadan. Padahal ziarah kubur dianjurkan kapan saja tanpa penetapan waktu tertentu. Menentukan hari khusus tanpa dalil termasuk perkara yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah.

Di Indonesia, tradisi ini dikenal dengan istilah nyekar. Selain itu, ada pula tradisi ruahan atau arwahan, yaitu ritual mengirim doa kepada arwah leluhur menjelang Ramadan. Mendoakan orang yang telah meninggal memang dianjurkan, tetapi menentukan waktu khusus menjelang Ramadan tidak memiliki dasar dalam syariat.

Ada juga tradisi munggahan, yaitu makan besar sebelum Ramadan dengan anggapan karena akan berpuasa sebulan penuh. Tradisi ini tidak baik dan tidak diajarkan dalam Islam. Makan tetap dilakukan ketika berbuka puasa. Tidak ada alasan untuk berpesta makan sebelum Ramadan.

Kemudian ada tradisi padusan, yaitu mandi bersama-sama menjelang Ramadan hingga bercampur antara laki-laki dan perempuan. Ini tidak ada dalam ajaran Islam. Mandi wajib hanya disyariatkan karena sebab-sebab tertentu seperti junub, haid, nifas, atau mandi Jumat. Tidak ada perintah mandi khusus menjelang Ramadan.

Selain itu ada pula praktik sesajen, pesta, kembang api, dan menabuh beduk. Semua ini bukan bagian dari syiar Islam. Beduk bukan berasal dari ajaran Islam dan bukan syiar ibadah. Beduk termasuk alat musik dan penggunaannya justru mengganggu kaum muslimin.

Syiar Islam yang benar untuk memanggil salat adalah azan. Azan hanya disyariatkan untuk salat lima waktu. Tidak ada azan untuk salat Id, bayi yang baru lahir, atau orang yang meninggal dunia. Azan adalah syiar Islam yang agung dan tidak boleh dihina atau diremehkan.

Tradisi maaf-maafan sebelum Ramadan juga sering disalahpahami. Memaafkan adalah perbuatan baik, namun anggapan bahwa puasa tidak diterima jika belum saling memaafkan tidak memiliki dasar hadis yang sahih.

Setelah membahas penyimpangan-penyimpangan tersebut, barulah kita masuk kepada pembahasan puasa.

Allah mewajibkan puasa Ramadan sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Baqarah. Puasa diwajibkan atas orang-orang beriman agar mereka bertakwa. Puasa Ramadan diwajibkan setelah Nabi hijrah ke Madinah. Sebelumnya, puasa Asyura dianjurkan dan kemudian hukumnya menjadi sunah.

Puasa secara bahasa berarti menahan diri. Secara syariat, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri dengan niat karena Allah, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Puasa memiliki banyak keutamaan. Puasa adalah perisai dari api neraka dan menjadi sebab seseorang masuk surga. Puasa juga menghapus dosa-dosa yang telah lalu bagi orang yang melaksanakannya dengan iman dan mengharap pahala dari Allah.

Ibadah harus dilandasi dengan ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasulullah. Rukun ibadah ada tiga, yaitu cinta kepada Allah, berharap pahala dari-Nya, dan takut akan azab-Nya.

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan. Di bulan inilah Al-Qur’an diturunkan, tepatnya pada malam Lailatul Qadar. Di bulan Ramadan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.

Di bulan Ramadan doa-doa dikabulkan. Setiap muslim memiliki doa yang akan dikabulkan oleh Allah. Oleh karena itu, perbanyaklah doa, ibadah, dan amal saleh di bulan ini.

Hukum puasa Ramadan adalah wajib bagi setiap muslim yang balig, berakal, sehat, tidak dalam perjalanan, dan bagi perempuan yang suci dari haid dan nifas.

Rukun puasa ada dua, yaitu niat dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Niat tempatnya di hati dan harus dilakukan sebelum terbit fajar.

Di antara adab puasa adalah sahur. Sahur adalah makanan yang penuh keberkahan dan dianjurkan untuk dilakukan menjelang subuh. Dianjurkan pula menyegerakan berbuka ketika matahari telah terbenam dan berbuka dengan kurma atau air.

Memberikan makan kepada orang yang berbuka puasa memiliki ganjaran besar. Orang yang memberi makan akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun.

Doa orang yang berpuasa sangat mustajab, terutama ketika berbuka. Oleh karena itu, perbanyaklah doa dan jangan lupa mendoakan orang yang memberi makan kepada kita.

Selain itu, orang yang berpuasa wajib menjaga lisannya dari dusta, ghibah, fitnah, dan perbuatan haram lainnya. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari maksiat dan perbuatan sia-sia.

Manfaatkan waktu Ramadan dengan amal yang bermanfaat seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, dan melaksanakan salat wajib serta sunah. Salat berjamaah tetap wajib bagi laki-laki dan tidak boleh ditinggalkan.

Salat tarawih yang dicontohkan Rasulullah dilakukan dengan sebelas rakaat. Inilah yang paling utama karena sesuai dengan sunnah Nabi dan para sahabat.

Demikian pembahasan ini. Semoga Allah memberi kita taufik untuk menjalankan ibadah puasa dengan benar dan diterima oleh-Nya.

Wallahu a‘lam.

Senin, 26 Januari 2026

Lalai dan Malas adalah Penghalang Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

 


Kelalaian: Sebab Berkurangnya Iman

Innalhamdalillah, nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh. Wa na‘udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a‘malina. Man yahdihillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala hadiya lah. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.

Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in.

Amma ba‘du.

Pada kesempatan ini akan disampaikan pembahasan yang berkaitan dengan sebab berkurangnya iman, dan salah satu poin penting yang perlu ditekankan adalah kelalaian (al-ghaflah).

Makna Kelalaian

Kelalaian adalah lupa yang disengaja, atau tidak peduli terhadap perkara agama karena tidak menjaga diri dan tidak menyadari kewajiban. Kelalaian bukan sekadar lupa biasa, tetapi kelengahan yang dibiarkan.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala mencela sifat lalai dalam Al-Qur’an dan mengabarkan bahwa kelalaian termasuk akhlak yang tercela, bahkan merupakan sifat orang-orang kafir dan munafik. Allah memberikan ancaman yang keras terhadap kelalaian ini.

Dalil tentang Kelalaian

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman dalam Surah Al-A‘raf  ayat 179

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ ۝

Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.

 bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah dari jin dan manusia. Mereka memiliki hati tetapi tidak digunakan untuk memahami kebenaran, memiliki mata tetapi tidak digunakan untuk melihat kebenaran, dan memiliki telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar kebenaran. Mereka diserupakan bahkan lebih sesat daripada binatang ternak, karena merekalah orang-orang yang lalai.

Allah telah menciptakan manusia, mengutus para rasul, dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Namun banyak manusia tidak berusaha memahami kebenaran tersebut. Mereka memiliki penglihatan dan pendengaran, tetapi tidak digunakan untuk menerima hidayah.

Dalam Surah Al-Mulk,

 وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ ۝١٠

Mereka juga berkata, “Andaikan dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), tentulah kami tidak termasuk ke dalam (golongan) para penghuni (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala).

Allah menyebutkan penyesalan orang-orang kafir di hari kiamat. Mereka berkata bahwa seandainya dahulu mereka mau mendengar dan menggunakan akal, niscaya mereka tidak termasuk penghuni neraka. Akal mereka ada, pendengaran mereka ada, tetapi tidak digunakan untuk memahami dan mengamalkan kebenaran.

Allah juga berfirman bahwa kebanyakan manusia lalai terhadap ayat-ayat-Nya. Ayat-ayat Allah mencakup ayat-ayat Al-Qur’an dan ayat-ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta yang seharusnya menambah iman dan ketaatan.

Dalam Surah Yunus Ayat 7

إِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَآءَنَا وَرَضُوا۟ بِٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَٱطْمَأَنُّوا۟ بِهَا وَٱلَّذِينَ هُمْ عَنْ ءَايَٰتِنَا غَٰفِلُونَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami . 

Allah menjelaskan tentang orang-orang yang tidak berharap bertemu dengan Allah, merasa tenang dengan kehidupan dunia, dan lalai dari ayat-ayat Allah. Tempat kembali mereka adalah neraka karena apa yang mereka usahakan.

Allah juga menyebutkan dalam Surah Ar-Rum ayat 7 

يَعْلَمُونَ ظَٰهِرًا مِّنَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ ٱلْءَاخِرَةِ هُمْ غَٰفِلُونَ

Artinya: Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.

bahwa manusia mengetahui urusan dunia, tetapi lalai terhadap kehidupan akhirat. Mereka menguasai ilmu dunia, namun tidak memahami tauhid, makna syahadat, rukun iman, rukun Islam, dan konsekuensi mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka tidak mengetahui tata cara ibadah seperti wudhu dan shalat, tidak memahami Al-Qur’an, dan tidak mau belajar agama. Inilah orang yang lalai: mengetahui kebodohannya tetapi enggan belajar, sehingga menjadi bodoh dan sombong sekaligus.

Perintah Berdzikir dan Larangan Lalai

Allah Subhanahu wa Ta‘ala memerintahkan hamba-Nya untuk tidak lalai, dan menyuruh untuk banyak berdzikir. Allah berfirman agar hamba-Nya mengingat Allah dengan merendahkan diri, dengan suara yang perlahan, di waktu pagi dan petang, serta tidak termasuk orang-orang yang lalai.

Allah juga memerintahkan orang-orang beriman untuk berdzikir kepada-Nya dengan dzikir yang banyak dan bertasbih di waktu pagi dan petang.

Dzikir yang benar mencakup tiga hal:

Dzikir tidak dilakukan dengan suara keras, apalagi menggunakan pengeras suara. Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dzikir dilakukan masing-masing dengan suara pelan. Ketika ada sahabat yang mengeraskan suara dzikir, Nabi menegur dan menyatakan bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat.

Al-Qur’an sebagai Dzikir Terbesar

Membaca Al-Qur’an adalah dzikir yang paling agung. Allah berfirman bahwa Al-Qur’an adalah dzikir dan Allah sendiri yang menjaganya.

Seorang muslim tidak boleh lalai dari membaca Al-Qur’an setiap hari, betapapun sibuknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia tersibuk, namun tetap membaca Al-Qur’an. Para sahabat pun demikian.

para sahabat yang melalaikan mereka baca Al Qur'an adalah amal sholeh, sebagaimana ungkapan Khalid bin Walid : Khalid bin Walid, panglima perang yang tangguh, pernah mengungkapkan penyesalannya karena kesibukan jihad mencegahnya membaca Al-Qur'an. Beliau berkata, "Sungguh jihad di jalan Allah telah menyibukkan aku dari banyak membaca Al-Quran" (HR. Ibnu Abi Syaibah 6/151)

sekarang kaum muslimin yang menyibukan mereka dari membaca Al qur'an Adalah : Hp,pekerjaan, dunia dan permainan. jangan lalai kaum muslimin

Al-Qur’an akan memberikan syafaat bagi pembacanya di hari kiamat. Maka tidak ada alasan untuk meninggalkannya karena urusan dunia.

Kelalaian dan Malas

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa dua sebab terbesar yang menghalangi seorang hamba dari kebaikan dunia dan akhirat adalah:

  • Lalai, yang bertentangan dengan ilmu

  • Malas, yang bertentangan dengan kemauan yang kuat

Lalai dan malas adalah bencana bagi seorang hamba dan penghalang dari kebahagiaan dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah dari sifat malas.

Orang yang tahu kewajiban tetapi tidak melaksanakannya karena malas, itulah lalai. Ia tahu keutamaan membaca Al-Qur’an, tetapi tidak membacanya. Tahu keutamaan dzikir, tetapi meninggalkannya. Tahu kewajiban berbuat baik kepada orang tua dan tetangga, tetapi enggan melaksanakannya.

Nasihat Penutup

Hati yang lalai adalah tempat bersarangnya setan. Setan senang membisikkan was-was dan melalaikan manusia. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu, seorang dai, dan setiap muslim tidak boleh lalai.

Waktu yang telah berlalu tidak akan kembali. Waktu yang akan datang tidak kita ketahui. Yang kita miliki hanyalah hari ini. Maka kerjakan kewajiban hari ini, jangan menunda amal.

Tujuan hidup kita adalah surga, bukan dunia. Dunia hanyalah sarana. Maka jangan lalai dan jangan malas.

Subhanallah wa bihamdih.
Asyhadu alla ilaha illallah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Disalin dari kajian Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas - Rahimahullahu Ta'aala -

Sabtu, 24 Januari 2026

Rahasia Takdir: Tenang di Tengah Ujian Hidup - Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas rahimahullah

 




salinan kajian Rahasia Takdir: Tenang di Tengah Ujian Hidup - Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas rahimahullah

DAFTAR ISI

  1. Pendahuluan

  2. Pengertian Iman kepada Qadha dan Qadar

  3. Kedudukan Iman kepada Qadar dalam Islam

  4. Tingkatan-Tingkatan Qadar

  5. Hidayah dan Kesesatan

  6. Takdir dan Keadilan Allah

  7. Iman kepada Qadar dan Kehidupan Seorang Muslim

  8. Takdir dan Usaha Manusia

  9. Kesalahan dalam Memahami Takdir

  10. Sikap Seorang Mukmin terhadap Takdir

  11. Penutup


**BAB 1

PENDAHULUAN**

Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat diraih dengan beriman kepada Allah, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Salah satu pilar utama keimanan adalah iman kepada qadha dan qadar, baik yang dirasakan menyenangkan maupun yang menyakitkan.

Banyak manusia yang salah dalam memahami takdir. Sebagian bersandar penuh kepada takdir hingga meninggalkan usaha, sementara sebagian lain hanya mengandalkan usaha tanpa tawakal kepada Allah. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang benar sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.


**BAB 2

PENGERTIAN IMAN KEPADA QADHA DAN QADAR**

Iman kepada qadha dan qadar adalah keyakinan bahwa:

  • Segala sesuatu telah diketahui Allah

  • Telah ditulis di Lauhul Mahfuzh

  • Terjadi atas kehendak Allah

  • Diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala

Baik yang terjadi berupa kebaikan maupun keburukan, semuanya berada dalam ilmu dan ketetapan Allah, namun Allah tidak pernah berbuat zalim kepada hamba-Nya.


**BAB 3

KEDUDUKAN IMAN KEPADA QADAR DALAM ISLAM**

Iman kepada qadar adalah rukun iman yang keenam. Tidak sempurna iman seseorang hingga ia meyakini bahwa:

  • Apa yang menimpanya tidak akan meleset

  • Apa yang tidak ditakdirkan tidak akan menimpanya

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Ubay bin Ka‘ab, Abdullah bin Mas‘ud, Hudzaifah bin Yaman, dan Zaid bin Tsabit menegaskan bahwa iman tidak diterima tanpa keyakinan ini.


**BAB 4

TINGKATAN-TINGKATAN QADAR**

1. Ilmu Allah

Allah mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya, yang telah terjadi, dan yang akan terjadi hingga hari kiamat. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari ilmu-Nya.

2. Pencatatan (Kitabah)

Segala sesuatu telah dicatat di Lauhul Mahfuzh. Tidak ada satu pun kejadian yang luput dari catatan Allah.

3. Kehendak Allah (Masyi’ah)

Apa pun yang terjadi di langit dan di bumi tidak akan terjadi kecuali dengan kehendak Allah.

4. Penciptaan (Khalq)

Allah adalah Pencipta segala sesuatu, termasuk perbuatan hamba-hamba-Nya.


**BAB 5

HIDAYAH DAN KESESATAN**

Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Namun, Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Allah telah menjelaskan jalan kebenaran dan kebatilan melalui Al-Qur’an dan Sunnah.

Manusia bertanggung jawab atas pilihannya karena Allah telah memberi akal, pendengaran, dan penglihatan.


**BAB 6

TAKDIR DAN KEADILAN ALLAH**

Allah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya. Jika Allah mengazab seluruh makhluk-Nya, itu bukan kezaliman. Dan jika Allah merahmati mereka, rahmat Allah lebih baik daripada amal mereka.

Allah tidak mengazab seseorang kecuali setelah ditegakkan hujjah melalui para rasul.


**BAB 7

IMAN KEPADA QADAR DAN KEHIDUPAN SEORANG MUSLIM**

Iman kepada qadar melahirkan:

  • Ketenangan hati

  • Kesabaran dalam musibah

  • Syukur dalam nikmat

  • Keberanian dan optimisme

Seorang mukmin yakin bahwa segala yang menimpanya adalah bagian dari ketetapan Allah yang penuh hikmah.


**BAB 8

TAKDIR DAN USAHA MANUSIA**

Allah memerintahkan manusia untuk beramal dan berusaha. Tawakal yang benar adalah menggabungkan usaha dengan penyerahan diri kepada Allah.

  • Bersandar pada usaha saja adalah kesyirikan

  • Meninggalkan usaha adalah kesesatan

  • Menggabungkan keduanya adalah jalan yang lurus


**BAB 9

KESALAHAN DALAM MEMAHAMI TAKDIR**

Beberapa kesalahan yang sering terjadi:

  1. Berdalih dengan takdir untuk membenarkan maksiat

  2. Meninggalkan amal karena merasa semuanya sudah ditentukan

  3. Putus asa ketika tertimpa musibah

  4. Menyalahkan Allah atas dosa diri sendiri

Berdalih dengan takdir hanya dibolehkan pada musibah, bukan pada dosa.


**BAB 10

SIKAP SEORANG MUKMIN TERHADAP TAKDIR**

Sikap yang benar:

  • Beriman dan ridha

  • Bersabar dalam musibah

  • Bersyukur dalam nikmat

  • Bertaubat dari dosa

  • Terus beramal shalih

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk bersungguh-sungguh dalam perkara yang bermanfaat dan memohon pertolongan kepada Allah.


**BAB 11

PENUTUP**

Takdir adalah rahasia Allah yang tidak mampu dijangkau oleh akal manusia. Kewajiban kita bukan membongkar rahasia tersebut, melainkan:

  1. Mengimaninya

  2. Mengamalkan syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang beriman dengan benar dan istiqamah di atas Sunnah.

Khutbah Jum'at Menyelami kesempurnaan Islam

 

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ  وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ،

وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ،

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

فَقَالَ تَعَالَى

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

أَمَّا بَعْدُ،

 

 

Jamaah sekalian yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala,

dari atas mimbar ini kita senantiasa diingatkan untuk memperbaiki kualitas takwa kita kepada Allah SubhanahuwaTa’ala.

 

Takwa yang dimaksud adalah takwa yang benar, yaitu mengamalkan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan serta menjauhi apa yang Allah dan Rasul-Nya larang.

 

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menjadikan agama Islam sebagai agama yang sempurna, tanpa cacat, sesuai untuk setiap tempat dan zaman. Kapan pun dan di mana pun Islam diterapkan dengan benar, maka akan mendatangkan banyak kebaikan dan keselamatan.

 

Penting untuk kita ketahui bahwa sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, manusia berada dalam kejahilan yang luar biasa. Kemaksiatan tersebar di mana-mana. Hingga akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasul-Nya membawa wahyu, yang dengan wahyu tersebut terangkatlah kejahilan dan Allah menggantinya dengan kehidupan serta keadilan yang sempurna.

 

Maka sudah sepatutnya bagi kita sebagai seorang muslim untuk mempelajari, mengetahui, dan menyadari indah serta sempurnanya Islam. Dengan mempelajari Islam, pijakan kita dalam beragama akan menjadi kokoh. Sebaliknya, ketika seseorang jahil terhadap agamanya sendiri, maka hal itu berbahaya bagi dirinya dan bagi agamanya.

Banyak kita melihat orang yang menjual agamanya, menggadaikan agamanya demi harta, jabatan, atau hawa nafsu. Salah satu sebabnya adalah kejahilannya terhadap Islam, sehingga dia tidak menyadari bahwa dirinya berada di atas kebaikan yang luar biasa.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’idah ayat tiga, bahwa pada hari itu Allah telah menyempurnakan agama, mencukupkan nikmat, dan meridhai Islam sebagai agama. Kesempurnaan Islam mencakup lahir dan batin, pokok dan cabangnya. Al-Qur’an dan Sunnah telah cukup sebagai pedoman hidup seorang muslim.

 

Barang siapa menginginkan agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya dan di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.

Kesempurnaan Islam di antaranya adalah dijelaskannya segala sesuatu yang dibutuhkan umat. Al-Qur’an diturunkan sebagai penjelasan atas segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.

 

Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa semua ilmu telah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Inilah kebanggaan luar biasa bagi seorang muslim.

Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu pernah didatangi oleh seseorang yang ingin mencela Islam dengan mengatakan bahwa Nabi mengajarkan segala sesuatu. Salman menjawab dengan bangga bahwa benar, Nabi mengajarkan segala sesuatu, bahkan sampai adab buang hajat. Jawaban ini menunjukkan kebanggaan sahabat terhadap Islam.

Kesempurnaan Islam yang kedua adalah perhatian Islam terhadap lahir dan batin. Islam tidak hanya memperhatikan amalan lahir, tetapi juga amalan hati. Bahkan amalan hati lebih diutamakan. Percuma ibadah yang banyak jika hati dipenuhi penyakit. Islam memerintahkan untuk memperbaiki lahir dan batin agar menjadi muslim yang baik secara menyeluruh.

 

Kesempurnaan Islam yang ketiga adalah bahwa semua perintahnya mampu dilaksanakan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda bahwa apa yang dilarang harus ditinggalkan dan apa yang diperintahkan dilakukan sesuai kemampuan. Inilah kemudahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Salat diperintahkan berdiri, jika tidak mampu maka duduk, jika tidak mampu maka berbaring. Betapa sempurnanya agama Islam ini. Maka pantas bagi kita untuk bangga terhadap Islam, bukan bangga kepada diri kita sendiri.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang ketika mendengar kebaikan, segera mengamalkannya.

 

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

 

Khutbah Kedua

 

 عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ،

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

 

Khutbah Kedua

 

Khutbah yang pertama tadi kita sudah mendengar tentang sempurnanya agama Islam,

agama yang Allah Subhanahu wa Ta’ala muliakan dengan kesempurnaan tersebut.

Maka kesempurnaan Islam itu harus dipelajari dan diamalkan.Islam bukan ranah bagi kita untuk berinovasi.Bukan hak kita untuk menambahkan atau mengurangi ajaran Islam.

 

Karena sesuatu yang sudah sempurna, jika ditambahkan bukan semakin sempurna,justru menjadi cacat kesempurnaannya.Begitu pula jika dikurangi, maka akan merusak kesempurnaannya.

Contoh yang bisa kita ambil dalam perkara ini adalah sebagai berikut.

Ketika seseorang membangun sebuah perumahan,untuk proyek tersebut ia membutuhkan kusen pintu dan jendela.Ia memanggil tukang kayu dan berkata,“Pak, untuk perumahan ini kami membutuhkan kusen pintu dan jendela sekian ukuran.

 

”Misalnya dua kali tiga.

Tukang kayu tersebut senang dan langsung mengerjakannya.Namun di dalam hatinya ia berkata,

“Masya Allah, orang ini baik sekali memberi saya proyek.Kalau dia minta dua kali tiga, saya buatkan tiga kali lipat.Bayarnya tetap dua kali tiga, ini bentuk kebaikan saya.”

Ketika hasilnya diserahkan kepada pemilik perumahan,yang diminta dua kali tiga justru diberikan tiga kali empat.Apakah pemilik perumahan akan senang?

 

Tidak, justru ia akan marah karena barang tersebut menyelisihi apa yang diminta.

Maka demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.Apa yang beliau ajarkan telah sempurna.

Jika kita memiliki perasaan ingin menambahkan sesuatu yang datang dari Rasulullah bukan berarti itu sebuah kebaikan.Kebaikan yang sebenarnya adalah mengamalkan apa yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tunjukkan dan apa yang beliau contohkan.

Ini adalah salah satu bentuk penghormatan kita terhadap kesempurnaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan dan yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ajarkan.

Sikap kita sebagai seorang muslim terhadap kesempurnaan Islam adalah mempelajarinya dan mengamalkannya.Ini merupakan anugerah besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apa pun profesi kita—pegawai, atasan, dokter, atau yang lainnya—tetap wajib mempelajari Islam dan mengamalkannya. Dengan itu kita akan melaksanakan ibadah, termasuk salat,

dengan rasa bangga, senang, dan penuh keyakinan. Hal ini akan memberikan pengaruh besar terhadap keistiqamahan kita dalam Islam.

 

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita orang-orang yang ketika mendengar kebaikan,

segera mengamalkan kebaikan tersebut.

 

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ dan آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى Layanan  مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا،

اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْعَادَانَا،

 أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ

اللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. dan اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ

 

Disalin dari Khutbah Jum’at Ustadz Nasir Umar Amr, Lc

 

Andai Ini Ramadhan Terakhirku - Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA

 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsan...