Senin, 23 Februari 2026

Andai Ini Ramadhan Terakhirku - Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA

 Bismillahirrahmanirrahim.

Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu ala taufiqihi wamtinani wa ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahu iman, wa asadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwanih.

Hadirin dan hadirat bapak-bapak dan ibu-ibu yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala. Sebentar lagi akan datang tamu yang agung, bulan Ramadan, yang dinantikan oleh setiap mukmin, setiap Muslim. Bulan yang menjanjikan banyak harapan. Harapan bagi orang-orang yang penuh dengan dosa. Harapan bagi para salihin, para salihat yang merindukan surga. Harapan bagi siapa saja, setiap muslim yang ingin bahagia ketika bertemu dengan Rabb-Nya. Inilah bulan yang dinanti-nanti dengan penuh harapan.

Dan sebelumnya banyak di antara kita sudah pernah didatangi tamu tersebut, tahun-tahun yang lalu. Dan alhamdulillah mudah-mudahan pada tahun ini juga kita diberi kemudahan untuk bertemu dengan bulan Ramadan. Namun nikmat bertemu dengan bulan Ramadan tentu tidak ada yang bisa menjamin untuk bisa mendapatkannya setiap tahun. Sudah banyak saudara-saudara kita, kerabat-kerabat kita yang meninggal di tahun ini sehingga tidak bisa bertemu dengan bulan Ramadan.

Bahkan pada Ramadan sebelumnya ada yang baru setengah Ramadan kemudian dipanggil oleh Allah Subhanahu wa taala. Bahkan ada yang membuat perencanaan, saya akan melakukan demikian dan demikian ketika di bulan Ramadan, ternyata dia tidak bertemu dengan bulan Ramadan.

Maka sungguhnya agar Ramadan kita menjadi lebih bermakna, sehingga kita bisa lebih semangat beribadah, lebih khusyuk, dan semoga ibadah kita lebih diterima oleh Allah subhanahu wa taala. Maka pada kesempatan kali ini saya akan mengajak diri saya pribadi dan juga para hadirin dan hadirat untuk merenungkan beberapa perenungan agar kita bisa lebih optimal dan maksimal menyambut tamu yang sangat agung tersebut yang merupakan karunia dari Allah subhanahu wa taala.

Yang pertama, hadirin dan hadirat yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala, hendaknya kita tahu bahwasanya Ramadan adalah bulan penuh keberkahan. Karenanya Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan, “Atakum Ramadan syahrun mubarak.” Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, yaitu bulan penuh berkah.

Dan disebut berkah adalah kasratul khair, yaitu banyaknya kebaikan dan juga tetapnya kebaikan tersebut. Tidaklah dikatakan suatu berkah kecuali bertambah-tambah kebaikannya. Oleh karenanya kebaikan banyak sekali dibuka pada bulan Ramadan.

Sebagaimana hadis-hadis yang telah kita ketahui, Rasul sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jika datang bulan Ramadan, futihat abwabul jannah, pintu-pintu surga dibuka.” Isyarat bahwasanya orang yang masuk surga dimudahkan di bulan Ramadan, sehingga pintu-pintunya sudah dibuka menyambut orang-orang yang ingin masuk surga.

Dalam riwayat yang lain, futihat abwabus sama, dibukalah pintu-pintu langit sebagai isyarat bahwasanya doa mudah dikabulkan di bulan tersebut. Karena doa tidak dibatasi oleh langit, bahkan langit terbuka untuk menyambut doa tersebut. Demikian juga isyarat bahwasanya amal saleh mudah diterima, tidak seperti bulan-bulan yang lain.

Allah berfirman, “Ilaihi yash’adul kalimul thayyib wal ‘amalush shalihu yarfa’uh.” Sesungguhnya kalimat-kalimat yang baik naik menuju Allah dan amal saleh diangkat oleh Allah. Maka ini kesempatan seorang hamba untuk memperbanyak ibadah karena amalnya mudah diterima oleh Allah subhanahu wa taala.

Dalam riwayat yang lain, futihat abwabur rahmah, dibukakan pintu-pintu rahmat. Berarti rahmat Allah begitu banyak bercucuran kepada hamba-hamba-Nya. Maka ini adalah nikmat yang tidak Allah berikan di bulan-bulan yang lain.

Kemudian juga Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan, “Walillahi ‘utaqa minan nar wa dzalika kulla lailah.” Dan Allah Subhanahu wa taala menetapkan hamba-hamba-Nya untuk bebas dari neraka jahanam, dan itu berlaku setiap malam bulan Ramadan.

Kemudian Rasul sallallahu alaihi wasallam juga mengatakan setan-setan dibelenggu. Ada yang menyeru, “Wahai pencari kebaikan, semangatlah. Wahai pencari keburukan, berhentilah.” Ini menunjukkan bahwasanya Allah mengondisikan bulan Ramadan agar kita kembali kepada Allah, agar kita optimal dan semangat beribadah kepada Allah subhanahu wa taala.

Bayangkan, setan dibelenggu, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, langit terbuka, rahmat Allah turun. Ini semua dikondisikan oleh Allah Subhanahu wa taala.

Belum lagi janji-janji Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Man shama Ramadana imanan wahtisaban ghufira lahu ma taqaddama min dzanbih.” Siapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dan berharap pahala dari Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Maka bulan Ramadan adalah bulan yang sangat menjanjikan. Sehingga seandainya ada seorang bertemu dengan bulan Ramadan kemudian ternyata dia tidak diampuni, maka sungguh orang tersebut adalah orang yang sangat merugi.

Oleh karena itu Rasul sallallahu alaihi wasallam mengaminkan doa malaikat Jibril, “Raghima anfuhu rajulin adraka Ramadan falam yughfar lahu.” Sungguh merugi orang yang bertemu dengan bulan Ramadan kemudian Ramadan berlalu dan dia tidak diampuni oleh Allah subhanahu wa taala.

Karena kesempatan di bulan Ramadan sangat banyak. Kalau dia tidak berhasil melalui satu pintu, masih ada pintu yang lain. Jika puasa belum mengantarkannya pada ampunan, masih ada salat malam. Jika salat malam belum, masih ada lailatul qadar. Jika belum juga, setiap malam ada pembebasan dari neraka. Jika itu pun belum, masih ada sedekah, memberi buka puasa, dan amal-amal kebaikan lainnya.

Terlebih lagi, setiap ibadah di bulan Ramadan dilipatgandakan oleh Allah secara kuantitas dan kualitas. Ibadah di bulan Ramadan tidak sama dengan bulan-bulan yang lain.

Umrah di bulan Ramadan seperti haji bersama Rasulullah. Lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan. Amal yang sedikit diberi ganjaran yang sangat besar. Semua ini menunjukkan betapa agungnya bulan Ramadan.

Maka hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala, hendaknya kita menyadari betapa besar nikmat bertemu dengan bulan Ramadan. Menyadari dosa-dosa kita selama setahun, menyadari kelemahan kita, dan menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk kembali kepada Allah, memperbaiki diri, memperbaiki hati, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan sungguh-sungguh.


disalin dari kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA

hadis hadis keutamaan Ramadhan

 

Ada tiga kelompok orang yang dido‘akan dengan kejelekan oleh Jibril dan diaminkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka itu adalah:

1.    Orang yang mendapati bulan Ramadhan tetapi dia tidak diampuni (setelah keluar darinya-

2.    Orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, tetapi ia masuk ke dalam Neraka.

3.    Orang yang disebutkan di hadapannya nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi ia tidak bershalawat kepadanya.

Sangat keterlaluan kalau seseorang dosanya tidak terampuni padahal Allah berikan peluang sebesar besarnya.


Suatu hari, Selesai dari Penguburan Jenazah salah seorang Sahabat, Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam menyatakan :

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ

Tidaklah ada Seorangpun di antara Kalian kecuali telah Ditulis (Ditetapkan) tempat Duduknya di Neraka atau tempat Duduknya di Surga. ( BUKHARI & MUSLIM )

1. Allah Azza wa Jalla menjadikan puasa (di Bulan Ramadhan) merupakan rukun keempat di antara Rukun Islam. Sebagaimana firman-Nya:

 

( شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه) سورة البقرة: 185 

 

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”.[ Al-Baqarah/2: 185]

 

 

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” [ Ad-Dukhan/44: 3]

 

Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan dengan adanya Lailaul Qadar. Untuk menjelaskan  keutamaan malam yang barokah ini, Allah turunkan surat Al-Qadar, dan juga banyak hadits yang menjelaskannya, di antaranya Hadits Abu Hurairah radhialahu ’anhu, dia berkata: Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

 

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ , تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ , وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ , وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ , لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ, مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ ” رواه النسائي ( 2106 ) وأحمد (8769) صححه الألباني في صحيح الترغيب ( 999 )

 

“Bulan Ramadhan telah tiba menemui kalian, bulan (penuh) barokah, Allah wajibkan kepada kalian berpuasa. Pada bulan itu pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu (neraka) jahim ditutup, setan-setan durhaka dibelenggu. Padanya Allah memiliki malam yang lebih baik dari seribu bulan, siapa yang terhalang mendapatkan kebaikannya, maka sungguh dia terhalang (mendapatkan kebaikan yang banyak).” [HR. Nasa’i, no. 2106, Ahmad, no. 8769. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih At-Targhib, no. 999]

 

 

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ . (رواه البخاري، رقم 1910، ومسلم، رقم  760 )

 

“Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan (penuh) keimanan dan pengharapan (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [HR. Bukhari, no. 1910, Muslim, no. 760].

 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa (di Bulan) Ramadhan (dalam kondisi) keimanan dan mengharapkan (pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu”.

 

ومن قام رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

 

”Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”.

 

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ

“Ketika datang (bulan) Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu”.

لله عند كل فطر عتقاء. (قال المنذري: إسناده لا بأس به، وصححه الألباني في صحيح الترغيب، رقم 987)

“Pada setiap (waktu) berbuka, Allah ada orang-orang yang dibebaskan (dari siksa neraka)” [Al-Munziri berkata: ”Sanadnya tidak mengapa”, dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih At-Targhib, no. 987]

إن لله تبارك وتعالى عتقاء في كل يوم وليلة _ يعني في رمضان _ , وإن لكل مسلم في كل يوم وليلة دعوة مستجابة

 

“Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala memberikan kebebasan dari siksa neraka pada setiap malam –yakni di bulan Ramadan- dan sesungguhnya setiap muslim pada waktu siang dan malam memiliki doa yang terkabul (mustajabah)”.

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

 

“Dari shalat (ke shalat) yang lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at, dari Ramadan ke Ramadhan, semua itu dapat menghapuskan (dosa-dosa) di antara waktu tersebut, jika menjauhi dosa-dosa besar.”

 

 

إنه مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ 

 

“Bahwasiapa menunaikan qiyamul lail bersama imam hingga selesai, dicatat baginya (pahala) qiyamul lail semalam (penuh)”. [Dishahihkan oleh Al-Albany dalam kitab ‘Shalat Taraweh’,  hal. 15]

 

أَنَّ جِبْرِيلَ كَانَ يَلْقَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ

 

“Sesungguhnya Jibril bertemu Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam setiap malam di bulan Ramadhan dan membacakan (Al-Qur’an) kepadanya”. [HR. Bukhari, no. 6, dan Muslim, no. 2308]. Membaca Al-Qur’an dianjurkan secara mutlak, akan tetapi pada bulan Ramadan sangat ditekankan.

 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : ” مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ , غَيْرَ أَنَّهُ لا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا 

Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ”Barangsiapa memberi buka (kepada) orang yang berpuasa, maka dia (akan mendapatkan) pahala seperti orang itu, tanpa mengurangi pahala orang berpuasa sedikit pun juga”. [HR.Tirmizi, no. 807,  Ibnu Majah, no. 1746, dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam shahih Tirmizi, no. 647].

 

 

Selasa, 17 Februari 2026

KISAH MIMPI THOLHA BIN ABAIDILLAH DAN KEUTAMAAN RAMADHAN

 kisah mimpi Thalhah Bin Ubaidillah dan keutamaan Ramadan, bulan agung yang penuh berkah, rahmat dan ampunan. Bulan yang memiliki banyak kemuliaan dan keutamaan. Waktu di mana umat Islam dibukakan berjuta kebaikan oleh Allah SWT. Waktu yang tidak boleh disia-siakan oleh semua orang beriman. Waktu termasuk nikmat yang sangat besar terhadap seorang hamba, Allah memberinya kesempatan dan umur panjang dalam ketaatan kepada Allah. 


Sebagaimana ketika Rasulullah ditanya sahabat: “Siapakah manusia yang paling baik?” Rasulullah menjawab: “Siapa saja yang panjang umurnya dan baik amalannya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Tentang penggunaan waktu dan keutamaan Ramadan, Zainal berbagi kisah mimpi dari sahabat Rasulullah, Thalhah bin Ubaidillah. Diceritakan tentang dua orang lelaki bertakwa dari suku Qudha'ah yang ringan tangan membantu dengan harta maupun tenaga untuk dakwah Islam. Hingga suatu saat keduanya dengan gembira memenuhi panggilan jihad dan berharap mati syahid yang dijamin masuk surga. 

Dalam perang tersebut, seorang meninggal syahid sedang seorang lainnya pulang membawa kemenangan gemilang. Setahun kemudian, ia meninggal karena sakit. Suatu malam Thalhah bermimpi tentang keduanya. Saat itu, Thalhah berada di depan pintu surga bersama kedua sahabat tersebut. Tiba-tiba dari dalam surga terdengar suara yang memanggil sahabat yang meninggal karena sakit dan mempersilakan masuk surga. Setelah itu baru terdengar suara lagi memanggil sahabat yang mati syahid, dan masuklah ia ke dalam surga. 

Lalu kembali terdengar suara dan berkata kepada Thalhah, “Kembalilah karena belum waktumu masuk surga." Thalhah pun terbangun dari mimpinya.
Keesokan hari Thalhah menceritakan mimpi tersebut kepada sahabat-sahabat lainnya namun mereka tidak percaya. Bagaimana mungkin sahabat yang meninggal karena sakit dipanggil lebih dahulu masuk surga daripada yang mati syahid. 

Kisah ini pun terdengar Rasulullah Saw, lalu dipanggil Thalhah untuk menceritakan. Mendengar cerita mimpi Thalhah tersebut, Rasullullah membenarkannya dan para sahabat pun heran. “Mengapa temannya yang meninggal terakhir masuk surga lebih dahulu dari pada temannya yang meninggal karena mati syahid?’’ Rasulullah saw bertanya balik: “Bukankah temannya itu masih hidup setahun setelah kematiannya?” Mereka menjawab: “Betul."

Rasulullah bertanya: “Dan bukankah ia masih mendapati Ramadhan, lalu ia berpuasa, melakukan salat ini dan itu selama satu tahun itu?” Mereka menjawab: “Betul." Maka Rasulullah berkata: “Maka jarak antara mereka lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban).

Dari kisah tersebut menunjukkan betapa keutamaan bulan Ramadhan dan ibadah di dalamnya dapat mengalahkan keutamaan seorang yang mati syahid.

25 keistimewaan bulan Ramadhan



Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi wassalatu wassalamu ala Rasulillah wa ala alihi wa sahbihi. Billahi wa ba’du.

Baik, kita akan lanjutkan kajian kita. Biasanya membahas Kitabut Tauhid, namun karena sebentar lagi kita menyongsong bulan Ramadan, maka beberapa pertemuan ke depan kita akan membahas seputar penyongsong bulan Ramadan.

Ada banyak perkara yang menjadikan Ramadan istimewa dibandingkan bulan-bulan lainnya. Inilah yang akan kita bahas secara ringkas pada pertemuan malam ini.

Pertama, di bulan Ramadan ada ibadah puasa.
Puasa merupakan salah satu dari rukun Islam sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Buniyal Islamu ‘ala khamsin”, dibangun Islam di atas lima perkara, salah satunya adalah puasa Ramadan.


Kedua, puasa Ramadan adalah puasa wajib.
Berbeda dengan puasa sunah seperti Senin Kamis, Ayyamul Bidh, atau puasa Daud. Puasa Ramadan tidak boleh ditinggalkan. Jika ditinggalkan tanpa uzur maka berdosa.

Puasa adalah ibadah yang dinasabkan langsung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Segala sesuatu yang disandarkan kepada Allah adalah sesuatu yang mulia. Seperti Ka’bah yang disebut Baitullah, karena dinasabkan kepada Allah maka ia memiliki keistimewaan dibanding tempat lainnya.

Puasa juga demikian. Dalam hadis qudsi Allah berfirman:

“Setiap amalan anak Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Karena puasa dinasabkan kepada Allah, pahalanya disimpan langsung oleh Allah dan tidak bisa dirampas pada hari kiamat.

Pada hari kiamat, orang-orang yang dizalimi akan mengambil pahala orang yang menzalimi mereka: pahala salat, sedekah, haji, zikir, dan bacaan Al-Qur’an. Namun pahala puasa tidak akan diberikan, karena puasa adalah milik Allah semata.

Inilah keistimewaan puasa.

Ketiga, Rasulullah ﷺ sangat bergembira menyambut bulan Ramadan.
Beliau tidak menunjukkan kegembiraan seperti itu pada bulan-bulan lainnya. Ketika Ramadan akan datang, Rasulullah ﷺ mengumpulkan para sahabat dan bersabda:

"Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya."

Ini menunjukkan besarnya kedudukan Ramadan di sisi Rasulullah ﷺ.

Keempat, Ramadan adalah bulan ampunan.
Ampunan Allah meluas di siang dan malam hari. Di siang hari dengan puasa, di malam hari dengan salat tarawih, dan ada satu malam istimewa yaitu Lailatul Qadar.

Rasulullah ﷺ bersabda:
Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya.
Barang siapa salat malam di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya.
Barang siapa menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya.

Tidak ada bulan selain Ramadan yang ampunannya mencakup siang dan malam.

Kelima, Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an.
Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadan, dan lebih khusus lagi pada malam Lailatul Qadar.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan sekaligus dari Lauhil Mahfuz ke langit dunia, dan permulaan wahyu kepada Nabi ﷺ juga terjadi di bulan Ramadan melalui turunnya ayat-ayat awal Surah Al-‘Alaq.

Inilah yang menjadikan Ramadan disebut sebagai Syahrul Qur’an.

Keenam, di bulan Ramadan terdapat Lailatul Qadar.
Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam yang penuh keberkahan, malaikat turun ke bumi, dan ditetapkan takdir satu tahun ke depan.

Barang siapa terhalang dari kebaikan malam itu, maka sungguh ia terhalang dari kebaikan yang besar.

Ketujuh, puasa Ramadan yang diikuti puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan puasa setahun penuh.
Karena satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali, maka puasa Ramadan dan enam hari Syawal bernilai puasa setahun.

Kedelapan, puasa adalah sarana penyucian jiwa.
Puasa melatih kita menjaga lisan, perbuatan, dan akhlak. Jika seseorang berpuasa namun tetap berkata dusta dan berbuat maksiat, maka puasanya tidak bernilai di sisi Allah.

Puasa seharusnya melahirkan akhlak mulia.

Kesembilan, puasa menumbuhkan kepekaan sosial.
Dengan merasakan lapar dan haus, kita merasakan penderitaan orang miskin. Ini menumbuhkan empati dan semangat berbagi.

Kesepuluh, puasa melahirkan sikap zuhud terhadap dunia.
Kenikmatan dunia ditinggalkan sementara, sehingga jiwa terbiasa tidak bergantung pada dunia.

Kesebelas, di bulan Ramadan ada salat tarawih.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang salat tarawih bersama imam hingga selesai, maka dicatat baginya pahala seperti salat semalam suntuk.

Keduabelas, umrah di bulan Ramadan pahalanya setara dengan haji bersama Rasulullah ﷺ.

Ketigabelas, disunahkan iktikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan.
Iktikaf adalah sunnah muakkadah yang dilakukan Rasulullah ﷺ hingga wafat.

Keempatbelas, dianjurkan memberi makan orang yang berpuasa.
Orang yang memberi makan orang berpuasa akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang tersebut.

Kelimabelas, bau mulut orang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kasturi.

Keenambelas, puasa dan Al-Qur’an akan menjadi syafaat pada hari kiamat.

Ketujuhbelas, Ramadan meningkatkan ketakwaan.
Dengan puasa di siang hari dan salat di malam hari, ketakwaan seorang hamba meningkat.

Kedelapanbelas, doa orang berpuasa mustajab, terutama saat berbuka.
Dan di setiap hari dan malam Ramadan, Allah membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka.

Kesembilanbelas, Ramadan adalah bulan kedermawanan.
Rasulullah ﷺ adalah orang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin bertambah di bulan Ramadan.

Keduapuluh, orang berpuasa memiliki dua kebahagiaan:
kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat bertemu Rabbnya.

Keduapuluh satu, puasa melatih lisan dan perbuatan.
Jika dicaci atau diajak bertengkar, orang yang berpuasa diperintahkan berkata, “Aku sedang berpuasa.”

Keduapuluh dua, puasa adalah perisai dari api neraka.

Keduapuluh tiga, Ramadan adalah bulan jihad.
Jihad melawan setan, hawa nafsu, dan musuh-musuh Islam.

Keduapuluh empat, Ramadan adalah bulan perubahan.
Iman meningkat, masjid ramai, sedekah melimpah, dan Al-Qur’an dibaca di mana-mana. Jika Ramadan tidak mengubah kita, maka ada yang salah pada diri kita.

Keduapuluh lima, Ramadan adalah bulan rahmat.
Penuh ampunan, keberkahan, dan kasih sayang Allah. Allah membuka peluang sebesar-besarnya untuk mengumpulkan pahala sebagai bekal menghadap-Nya.

Inilah sebagian keistimewaan bulan Ramadan. Masih banyak pembahasan lain yang insyaallah akan kita lanjutkan pada pertemuan-pertemuan berikutnya.

Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.
Wallahu a’lam.

Selasa, 10 Februari 2026

Ramadan: Bulan Mubarak dan Parameter Keimanan

 

Poin-Poin Pengajian

Ramadan: Bulan Mubarak dan Parameter Keimanan


Pendahuluan

  • Ramadan adalah bulan yang sangat agung dan penuh keberkahan

  • Rasulullah ﷺ sendiri mengumumkan kedatangannya

  • Tidak semua orang mendapatkan kebaikan Ramadan, meski hadir di dalamnya


Tatkala Ramadhan tiba, Rasûlullâh

 ﷺ bersabda, قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنَ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

 “Telah datang kepada kalian Ramadhan, BULAN MUBARAK (bulan yang diberkahi). Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad, shahih)


1. Hadits tentang Keutamaan Ramadan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

  • Ramadan adalah bulan mubarak (bulan penuh keberkahan)

  • Allah mewajibkan puasa di dalamnya

  • Pintu-pintu surga dibuka

  • Pintu-pintu neraka ditutup

  • Setan-setan dibelenggu

  • Di dalamnya ada Lailatul Qadar, lebih baik dari seribu bulan

  • Siapa yang terhalang dari kebaikannya, sungguh ia benar-benar terhalang

➡️ Hadits ini menunjukkan bahwa seluruh sarana ketaatan dibuka lebar di bulan Ramadan


2. Dampak Dibukanya Pintu Surga

  • Kekhusyukan ibadah lebih mudah dirasakan

  • Semangat salat, tilawah, dan doa meningkat

  • Masjid-masjid menjadi ramai

  • Orang yang biasanya jauh dari masjid ikut mendekat

  • Suasana sosial, media, dan kehidupan masyarakat ikut berubah

➡️ Ini bukti nyata bahwa Ramadan adalah bulan yang istimewa dan berbeda


3. Ramadan adalah Bulan Kesempatan Terbesar

  • Jika Ramadan tidak mampu melahirkan ketaatan, bulan apa lagi yang diharapkan?

  • Semua penghalang ketaatan telah dilemahkan:

    • Setan dibelenggu

    • Pintu surga dibuka

    • Neraka ditutup

  • Allah menghadirkan seluruh unsur pendukung amal saleh


4. Nasihat Imam Ibnu Qayyim رحمه الله

  • Siapa yang terhalang dari ketaatan di Ramadan, seakan terhalang dari seluruh kebaikan

  • Jika Ramadan saja gagal dimanfaatkan, maka di luar Ramadan akan lebih berat


5. Ramadan sebagai Tolak Ukur Amal

  • Tilawah Al-Qur’an

    • Jika di Ramadan tidak khatam, kapan lagi?

  • Sedekah

    • Jika di Ramadan tidak ringan bersedekah, kapan akan dermawan?

  • Salat malam (Tarawih)

    • Jika di Ramadan tidak terbiasa, kapan akan bangun malam?

➡️ Ramadan adalah sarana latihan dan disiplin menuju istiqamah


6. Ramadan sebagai Parameter Keimanan

  • Analogi ulama:

    • Jika salat di depan Ka’bah saja tidak khusyuk, di mana lagi berharap khusyuk?

  • Jika Ramadan tidak memperbaiki ibadah, itu tanda ada masalah dalam hati


7. Mengapa Masih Ada Maksiat di Bulan Ramadan?

  • Jika di Ramadan masih ada:

    • Zina

    • Khamr

    • Judi

    • Maksiat lainnya

  • Maka masalahnya bukan lagi pada setan

  • Yang berkuasa adalah hawa nafsu

  • Bukan setannya yang rusak, tapi hati manusia


8. Ramadan sebagai Cermin Diri

  • Lihat bagaimana Ramadan kita diisi

  • Jika masih dipenuhi maksiat, maka perlu taubat dan muhasabah

  • Ramadan adalah alat ukur kondisi iman seseorang


9. Ramadan adalah Bulan Transaksi Besar

  • Kita semua adalah pedagang

  • Barang dagangan: amal saleh

  • Pembeli: Allah

  • Keuntungan: surga seluas langit dan bumi

  • Waktu transaksi terbaik: bulan Ramadan

➡️ Jangan main-main dengan bulan ini


10. Empat Golongan Manusia dalam Menyikapi Ramadan

Bukan untuk menilai orang lain, tapi untuk bercermin:

  1. Golongan datar

    • Tidak bahagia dengan Ramadan

    • Mengeluh karena lapar dan haus

    • Menganggap Ramadan mengganggu rutinitas dunia

  2. Golongan semangat sesaat

    • Semangat di awal

    • Melemah di pertengahan dan akhir

  3. Golongan naik-turun

    • Kadang semangat, kadang futur

    • Hanya hidup di malam-malam tertentu

  4. Golongan terbaik

    • Semakin hari semakin meningkat

    • Puncak ibadah di sepuluh hari terakhir

    • Inilah Ramadan Rasulullah ﷺ dan para sahabat


11. Ramadan dan Kondisi Hati

  • Sikap terhadap Ramadan mencerminkan isi hati

  • Ibarat jam antik:

    • Barangnya sama

    • Nilainya berbeda sesuai pemahaman

  • Ramadan bisa dianggap:

    • Beban

    • Peluang

    • Investasi akhirat


12. Cinta Ramadan Tanda Rindu Surga

  • Orang yang rindu surga akan mencintai Ramadan

  • Dunia baginya hanya bekal

  • Semakin rindu surga, semakin mencintai Ramadan


13. Ramadan adalah Program Langit

  • Memiliki pintu khusus di surga: Ar-Rayyan

  • Tugas kita bukan menduniakan Ramadan

  • Tetapi melangitkan Ramadan


14. Ramadan adalah Bulan Pengampunan

  • Allah banyak membebaskan hamba dari neraka

  • Dosa-dosa dibakar di bulan ini

  • Zikir utama di Ramadan:

    Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni


15. Ramadan untuk Semua Orang

  • Berlaku bagi orang saleh maupun pendosa

  • Kesempatan untuk kembali kepada Allah

  • Boleh pendosa, tapi jangan membenci Ramadan

  • Jangan menjadi orang yang tidak gembira menyambut Ramadan


16. Persiapan Menghadapi Ramadan

  • Persiapkan dengan ilmu

  • Jauhi perdebatan yang memecah belah

  • Jaga hati dari merasa paling saleh

  • Siapkan amal cadangan:

    • Memberi makan orang berbuka

    • Sedekah tersembunyi

    • Membantu sesama


Penutup

  • Ramadan adalah hadiah besar dari Allah

  • Jangan sia-siakan bulan yang hanya datang setahun sekali

  • Semoga kita termasuk orang yang tidak terhalang dari kebaikan Ramadan

JIKA RAMADHAN TIBA..

 

Perhatikan hadits dari Abu Hurairah z, dia berkata, ‘Tatkala Ramadhan tiba, Rasûlullâh bersabda,

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنَ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, BULAN MUBARAK (bulan yang diberkahi). Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad, shahih)

 

Dampak dari dibukanya pintu surga itu nyata dalam kehidupan kita. Kita merasakan kekhusyukan, semangat ibadah, masjid-masjid yang ramai, dan suasana yang berbeda. Bahkan orang-orang yang biasanya jarang ke masjid pun ikut hadir. Media, televisi, dan kehidupan sosial pun berubah.

Itulah bukti bahwa Ramadan adalah bulan yang luar biasa, bulan penuh keberkahan, dan waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Imam Ibnu Qayyim رحمه الله berkata, siapa yang di bulan Ramadan terhalang dari ketaatan, seakan-akan dia terhalang dari semua kebaikan. Jika Ramadan saja tidak mampu melahirkan ketaatan, lalu di bulan apa lagi ia berharap?

Jika di bulan Ramadan seseorang tidak khatam Al-Qur’an, maka hendaknya ia bertanya pada dirinya sendiri: “Di bulan apa lagi aku akan khatam?” Padahal di bulan Ramadan setan dibelenggu, pintu surga dibuka, neraka ditutup, dan semua unsur pendukung ketaatan dihadirkan oleh Allah. Jika Ramadan saja tidak mampu, maka di bulan lain akan lebih berat.

Begitu pula sedekah. Jika di bulan Ramadan seseorang tidak mampu bersedekah dengan ringan, seperti angin sepoi-sepoi, maka di bulan mana lagi ia berharap menjadi dermawan?

Jika di bulan Ramadan seseorang tidak mampu menjaga tarawih—yang hakikatnya adalah tahajud—lalu kapan ia akan terbiasa bangun malam? Ramadan sejatinya adalah sarana disiplin untuk istiqamah.

Begitu pula sedekah. Jika di bulan Ramadan seseorang tidak mampu bersedekah dengan ringan, seperti angin sepoi-sepoi, maka di bulan mana lagi ia berharap menjadi dermawan?

Jika di bulan Ramadan seseorang tidak mampu menjaga tarawih—yang hakikatnya adalah tahajud—lalu kapan ia akan terbiasa bangun malam? Ramadan sejatinya adalah sarana disiplin untuk istiqamah.

Para ulama memberikan analogi sederhana. Jika Allah mengizinkan kita shalat di depan Ka’bah dengan jarak hanya beberapa langkah, namun kita tetap tidak khusyuk—masih memikirkan dunia, pekerjaan, dan urusan lain—maka di mana lagi kita berharap bisa khusyuk?

Inilah yang membuat kita memahami bahwa Ramadan adalah parameter keimanan.

Maka jika ada yang bertanya, “Ustaz, kenapa masih banyak dosa di bulan Ramadan?” Para ulama salaf menjelaskan: jika di bulan Ramadan masih ada zina, khamr, judi, dan maksiat lain, maka bukan setan lagi yang patut disalahkan. Itu tanda hawa nafsu sudah menguasai hati. Yang rusak bukan setannya, tapi nafsunya.

Jika ingin mengukur apakah hawa nafsu sudah mendominasi atau belum, lihat Ramadan kita. Jika Ramadan masih diisi maksiat, maka jelas masalahnya ada pada diri kita.

Ramadan adalah bulan transaksi besar. Kita semua adalah pedagang, barang dagangan kita adalah amal saleh, pembelinya adalah Allah, dan alat tukarnya adalah surga seluas langit dan bumi. Dan Allah paling menyukai transaksi yang dilakukan di bulan Ramadan.

Karena itu jangan main-main dengan bulan ini. Ramadan adalah perputaran luar biasa dalam hidup kita.

Para ulama menjelaskan bahwa manusia dalam menyikapi Ramadan terbagi menjadi empat golongan. Bukan untuk menilai orang lain, tapi untuk bercermin pada diri sendiri.

Golongan pertama adalah mereka yang menjalani Ramadan dengan datar. Tidak ada rasa bahagia, bahkan mengeluh karena tidak bisa makan siang, tidak bisa ngopi, dan merasa Ramadan mengganggu rutinitas duniawinya.

Golongan kedua adalah mereka yang semangat di awal Ramadan, namun turun drastis di pertengahan dan akhir. Awalnya tilawah banyak, lalu perlahan menghilang.

Golongan ketiga adalah mereka yang naik turun. Kadang semangat, kadang futur. Ada yang hanya hidup di malam-malam ganjil, seolah Allah hanya ada di malam ganjil, padahal Rabb yang disembah di malam ganjil sama dengan Rabb yang disembah di malam genap.

Golongan keempat adalah mereka yang semakin hari semakin meningkat. Sepuluh hari pertama semangat, sepuluh hari kedua lebih semangat, dan sepuluh hari terakhir jauh lebih semangat. Inilah Ramadan Rasulullah dan para sahabat.

Perbedaan sikap manusia terhadap Ramadan sejatinya menunjukkan kondisi hati mereka.

Para ulama mengibaratkan seperti orang menilai jam antik. Objeknya sama, tapi harga yang diberikan berbeda-beda, tergantung pemahaman dan referensi orang yang melihatnya. Begitu pula Ramadan. Ada yang melihatnya sebagai beban, ada yang melihatnya sebagai peluang, dan ada yang melihatnya sebagai investasi akhirat yang luar biasa.

Sebagian orang mencintai Ramadan karena hatinya adalah kolektor surga. Dunia baginya hanya bekal.

Seberapa besar rindu seseorang kepada surga, sebesar itu pula cintanya kepada Ramadan.

Ramadan adalah program langit. Ia memiliki pintu khusus di surga, yaitu pintu Ar-Rayyan. Maka tugas kita bukan menduniakan Ramadan, tetapi melangitkannya.

Ramadan adalah jalan pemutihan. Allah membakar dosa-dosa di bulan ini. Tidak ada bulan di mana Allah membebaskan hamba dari neraka sebanyak di bulan Ramadan.

Karena itu zikir yang diajarkan Nabi di bulan Ramadan adalah:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni.”

Ramadan tidak pilih kasih. Ia berlaku untuk orang saleh maupun pendosa. Ramadan adalah kesempatan semua orang untuk kembali.

Kita boleh pendosa, tapi jangan menjadi pendosa yang membenci Ramadan. Jangan menjadi pendosa yang tidak bergembira dengan datangnya Ramadan.

Persiapkan Ramadan dengan ilmu, jauhi perdebatan yang memecah belah, jaga hati dari merasa paling saleh, dan siapkan rencana cadangan amal—seperti memberi makan orang berbuka—agar Ramadan kita tetap bernilai meski ada kekurangan.

 

JANGAN MENYIA NYIAKAN WAKTU < RAMADHAN >

 JANGAN MENYIA NYIAKAN WAKTU < RAMADHAN > 


Ada banyak sekali dalil yang menunjukkan betapa pentingnya waktu bagi hamba.

Di antaranya adalah Allah menjadikan waktu sebagai sumpah.

Apa dalilnya? Allah berfirman:

Wal ‘ashr, innal insaana lafii khusr.
Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan rugi.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta‘ala menyebutkan orang-orang yang dikecualikan, yaitu mereka yang beriman dan beramal saleh sampai akhir surat.
Mengapa Allah bersumpah dengan waktu? Karena ketika Allah hendak menyebutkan bahwa semua manusia pasti rugi, waktu adalah modal utama bagi setiap hamba.

Waktu merupakan modal utama bagi setiap hamba. Dengan waktu, seseorang bisa berbuat ketaatan dan juga bisa melakukan maksiat. Jika seseorang tidak memiliki waktu, maka dia tidak punya kesempatan untuk beraktivitas. Karena itulah manusia bisa beraktivitas mendapatkan pahala, dan sebaliknya juga bisa mendapatkan dosa, sebab dia punya waktu dan kesempatan. Maka waktu adalah modal.

Dalam sebuah hadis riwayat Tirmidzi, Nabi ﷺ mengingatkan bahwa kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ia ditanya oleh Allah tentang empat perkara. Salah satunya adalah tentang umurnya, untuk apa ia gunakan.

Jika kita berbicara tentang umur, hakikatnya kita sedang berbicara tentang waktu. Umur adalah waktu yang Allah berikan kepada kita. Setiap detik yang kita gunakan akan dimintai pertanggungjawaban. Kesadaran inilah yang perlu dibangun, karena menyia-nyiakan waktu akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Orang yang sadar bahwa dirinya akan dimintai pertanggungjawaban akan lebih berhati-hati dalam menggunakan waktu. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki kesadaran ini akan cenderung meremehkan waktu.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

Nikmatani maghbunun fihima katsirun minan naas.

Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengannya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang. Banyak orang menyepelekan keduanya, padahal keduanya adalah nikmat yang sangat istimewa. Orang yang tidak mengetahui nilai pentingnya waktu akan menyia-nyiakannya.

Karena itu, para ulama sangat memperhatikan waktu mereka. Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah akan menolongnya dalam memaksimalkan waktunya dan menjadikan waktunya sebagai penolong dalam ketaatan. Sebaliknya, jika Allah menghendaki keburukan bagi seorang hamba, maka waktunya akan disia-siakan dan disesali.

Ukuran seseorang dikehendaki kebaikan oleh Allah dapat dilihat dari kesibukannya. Jika ia sibuk dalam kebaikan, itu tanda kebaikan. Jika sibuk dalam hal yang sia-sia, maka itu tanda sebaliknya.

Ibnu Qayyim juga menasihatkan bahwa setiap orang wajib memiliki perencanaan terhadap waktunya. Orang yang berilmu sejati adalah orang yang selalu menjaga waktunya dan berpikir apa yang bisa ia lakukan pada setiap waktu yang dimiliki.

Menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan modal hidup. Seperti orang berdagang yang kehabisan modal, ia tidak akan mampu melanjutkan usahanya.

Para sahabat pun sangat menyesali hari yang berlalu tanpa tambahan amal. Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa tidak ada penyesalan yang lebih besar baginya selain ketika matahari terbenam sementara umurnya berkurang dan amalnya tidak bertambah.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa orang yang menganggur, tidak sibuk dengan urusan dunia maupun akhirat, adalah sasaran empuk godaan setan.

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata bahwa hakikat manusia adalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dirinya telah hilang. Karena itu waktu harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Beliau juga mengatakan bahwa para ulama terdahulu sangat pelit terhadap waktu mereka, bahkan lebih pelit daripada terhadap harta.

Ramadan adalah momentum yang sangat berharga. Tidak ada Ramadan yang berulang dalam satu tahun yang sama. Maka sangat merugi jika Ramadan berlalu tanpa amal yang bermakna.

Ibadah ada yang waktunya ditetapkan, seperti salat dan puasa, dan ada pula yang tidak ditetapkan waktunya, seperti zikir, membaca Al-Qur’an, salat sunnah, dan sedekah. Karena itu, sejatinya tidak ada waktu kosong bagi seorang muslim.

Seorang muslim selalu punya peluang untuk mendapatkan pahala. Jika tidak bisa membaca Al-Qur’an, bisa berzikir. Jika tidak berzikir, bisa bershalawat. Jika lelah, bisa mendengarkan kajian atau murattal.

Tantangan terbesar dalam memaksimalkan waktu ada dua: teman dan malas. Teman seringkali menjadi sebab habisnya waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Malas pun menjadi penghalang besar, dan obatnya adalah komitmen.

Para ulama dikenal memiliki waktu istirahat yang sedikit karena mereka memiliki cita-cita yang tinggi. Siapa yang cita-citanya tinggi, maka istirahatnya sedikit.

Tidur yang paling penting bukan banyaknya, tetapi kualitasnya. Tidur yang berkualitas akan menghilangkan lelah dan penat. Untuk itu, dianjurkan menjaga adab sebelum tidur agar tidur menjadi lebih maksimal.

Selain istirahat fisik, manusia juga membutuhkan istirahat psikis. Kuncinya adalah tawakal kepada Allah dan tidak mudah baper dalam interaksi dengan manusia.

Demikian kajian ini disampaikan. Semoga bermanfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih menghargai waktu.

Sabtu, 07 Februari 2026

PIKIRAN MU AKAN MENJADI TAKDIRMU

 



Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan yang mulia ini, mari kita merenungkan salah satu ajaran Islam yang sangat agung, yang menjadi sumber ketenangan jiwa dan kekuatan iman, yaitu berprasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Isi Ceramah

Hadirin sekalian,

Hadis yang akan kita bahas adalah Hadis Qudsi, yaitu hadis yang lafaznya disampaikan oleh Rasulullah ﷺ, tetapi maknanya langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satu ciri Hadis Qudsi adalah Rasulullah ﷺ bersabda, kemudian Allah berfirman.

Dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah berfirman:

“Ana ‘inda zanni ‘abdi bi.”
Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku.

Kalimat ini sangat dalam maknanya. Allah memperlakukan seorang hamba sesuai dengan prasangkanya kepada Allah. Jika seorang hamba berprasangka baik, maka kebaikanlah yang akan ia dapatkan. Namun jika ia berprasangka buruk, maka keburukanlah yang akan ia rasakan.

Ketika kita mendapatkan nikmat—sehat, rezeki, keluarga, dan kebahagiaan—lalu kita berprasangka baik kepada Allah dan bersyukur, itu adalah hal yang mudah dilakukan oleh banyak orang.

Namun yang berat adalah ketika seseorang diuji dengan musibah: sakit, kehilangan harta, kegagalan usaha, atau cobaan hidup lainnya. Di sinilah kualitas iman seorang mukmin diuji. Jika ia tetap berprasangka baik dan berkata, “Mungkin Allah sedang menghapus dosa-dosaku, atau meninggikan derajatku,” maka kebaikan itulah yang akan ia dapatkan.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Dalam Hadis Qudsi yang lain, Allah memberikan kabar gembira kepada seluruh manusia. Allah berfirman:

“Wahai anak Adam, janganlah engkau takut kepada siapa pun yang memiliki kekuasaan, selama kekuasaan-Ku masih ada. Ketahuilah bahwa kekuasaan-Ku tidak akan pernah punah.”

“Wahai anak Adam, janganlah engkau takut dengan kesempitan rezeki, karena perbendaharaan-Ku penuh dan tidak akan pernah habis.”

“Wahai anak Adam, Aku menciptakan engkau untuk beribadah, maka janganlah engkau main-main. Aku telah menentukan rezekimu, maka janganlah engkau bersusah payah secara berlebihan.”

Allah kemudian berfirman:

“Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, jika engkau ridha dengan pemberian-Ku, Aku akan menenangkan jiwa dan ragamu, dan engkau akan mulia di sisi-Ku. Namun jika engkau tidak ridha, Aku akan membuatmu mengejar dunia, seperti hewan buas yang mengejar mangsanya. Tetapi engkau tidak akan mendapatkan kecuali apa yang telah Aku takdirkan.”

Hadirin sekalian,

Inilah rahasia ketenangan hidup. Orang yang ridha dengan ketetapan Allah akan hidup tenang, jiwanya damai, dan hatinya lapang. Sebaliknya, orang yang tidak ridha akan terus lelah mengejar dunia, namun tidak pernah merasa cukup.

Allah juga berfirman:

“Wahai anak Adam, Aku telah menciptakan langit dan bumi, dan Aku tidak pernah merasa sulit menciptakannya. Maka apakah engkau mengira Aku akan sulit mengurus rezekimu?”

“Wahai anak Adam, janganlah engkau meminta rezeki untuk hari esok, sebagaimana Aku tidak pernah meminta kepadamu amal untuk hari esok.”

“Wahai anak Adam, sesungguhnya Aku mencintaimu, maka cintailah Aku.”

Makna mencintai Allah adalah tunduk kepada perintah-Nya, menjalankan apa yang diperintahkan, dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.

Hadirin yang berbahagia,

Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata bahwa beliau hidup tenang karena dua hal: beliau tahu bahwa ajalnya sudah ditentukan oleh Allah, dan rezekinya pun telah ditentukan oleh Allah. Maka tidak ada alasan untuk gelisah atau iri terhadap rezeki orang lain.

Jika kita gagal mendapatkan sesuatu, maka yakinlah bahwa itu belum rezeki kita. Karena sekuat apa pun usaha manusia, ia tidak akan mendapatkan sesuatu yang tidak Allah takdirkan untuknya.


Penutup

Hadirin yang dirahmati Allah,

Mari kita perbaiki prasangka kita kepada Allah. Apa pun yang kita hadapi dalam hidup ini, yakinlah bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang selalu berprasangka baik, ridha terhadap ketetapan-Nya, dan diberi ketenangan jiwa di dunia serta keselamatan di akhirat.

Akhir kata,
Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu an la ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selasa, 03 Februari 2026

 




Kehebatan dan Keajaiban Bulan Ramadhan

Bismillahirrahmanirrahim.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia. Kemuliaannya menjangkau seluruh bulan dalam setahun. Ramadhan disebut sayyidus syuhur, pemimpin seluruh bulan. Tentu ada alasannya, karena di bulan inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan begitu banyak kenikmatan dan karunia kepada hamba-Nya.

Di masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, pernah ada seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Rabb kami itu dekat sehingga kami berdoa dengan lirih, atau jauh sehingga kami harus memanggil-Nya?” Nabi terdiam hingga datang Jibril membawa wahyu Allah:

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka katakanlah bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Ku.”

Ayat tentang kedekatan Allah ini terselip di antara ayat-ayat yang berbicara tentang Ramadhan. Seolah Allah ingin menegaskan bahwa kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya jauh lebih terasa di bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya.

Mengapa demikian? Karena amal shalih sangat mudah dilakukan di bulan ini. Tidak ada bulan di mana manusia paling banyak shalat selain Ramadhan. Tidak ada puasa yang dilakukan secara massal selain di bulan ini. Sedekah pun mengalir deras. Masjid-masjid dipenuhi kaum muslimin. Al-Qur’an dibaca di mana-mana. Wanita yang sebelumnya belum menutup aurat pun tergerak untuk berhijab. Semua ini adalah bukti kehebatan Ramadhan.

Ramadhan mencakup seluruh rukun Islam. Syahadat lebih sering dilafalkan, shalat wajib dan sunnah dikerjakan, zakat dan sedekah ditunaikan, puasa diwajibkan, bahkan umrah di bulan Ramadhan pahalanya setara dengan haji bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Ramadhan juga disebut Syahrul Qur’an, bulan Al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan pada bulan ini, pada malam Lailatul Qadar. Karena Al-Qur’an, Jibril menjadi pemimpin para malaikat. Karena Al-Qur’an, Nabi Muhammad menjadi pemimpin para nabi. Karena Al-Qur’an, malam Lailatul Qadar menjadi malam terbaik, dan karena Al-Qur’an pula, Ramadhan menjadi bulan terbaik.

Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” Al-Qur’an mengangkat derajat seseorang dan merendahkan yang lain. Maka jangan pernah meninggalkan Al-Qur’an, terutama di bulan Ramadhan.

Ramadhan juga merupakan bulan kemenangan (Syahrul Intishar). Di bulan ini hawa nafsu ditekan dengan puasa, setan-setan dibelenggu, dan kaum muslimin dimenangkan dari musuh-musuhnya. Perang Badar dan Fathu Makkah terjadi di bulan Ramadhan, dua peristiwa besar yang menentukan kejayaan Islam.

Selain itu, Ramadhan adalah Syahrul Mustajab, bulan dikabulkannya doa. Doa orang berpuasa sangat mustajab, terutama pada tiga waktu: menjelang berbuka, sepertiga malam terakhir, dan setelah shalat Subuh hingga matahari terbit. Jangan sia-siakan waktu-waktu emas ini untuk memohon ampunan, hidayah, dan keselamatan dari api neraka.

Ramadhan juga membentuk akhlak dan kepekaan sosial. Puasa mengajarkan kita merasakan lapar dan dahaga, sehingga hati tergerak untuk peduli kepada fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang membutuhkan. Kisah Ali bin Abi Thalib dan Fatimah radhiyallahu ‘anhuma yang mendahulukan orang lain meski mereka sendiri lapar adalah contoh nyata bagaimana puasa membentuk akhlak mulia.

Dan yang terakhir, Ramadhan adalah Syahrul Maghfirah war Rahmah, bulan ampunan dan rahmat. Barang siapa berpuasa, shalat malam, dan menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

Sungguh merugi orang yang melewati Ramadhan namun tidak mendapatkan ampunan Allah. Ramadhan mampu mengubah alam semesta: pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, setan dibelenggu. Jika alam semesta saja berubah, mengapa kita tidak?

Maka jadikan Ramadhan sebagai kesempatan emas untuk memperbaiki diri, memperbanyak taqwa, karena sebaik-baik bekal adalah taqwa.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Andai Ini Ramadhan Terakhirku - Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA

 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsan...