Senin, 26 Januari 2026

Lalai dan Malas adalah Penghalang Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

 


Kelalaian: Sebab Berkurangnya Iman

Innalhamdalillah, nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh. Wa na‘udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a‘malina. Man yahdihillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala hadiya lah. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.

Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in.

Amma ba‘du.

Pada kesempatan ini akan disampaikan pembahasan yang berkaitan dengan sebab berkurangnya iman, dan salah satu poin penting yang perlu ditekankan adalah kelalaian (al-ghaflah).

Makna Kelalaian

Kelalaian adalah lupa yang disengaja, atau tidak peduli terhadap perkara agama karena tidak menjaga diri dan tidak menyadari kewajiban. Kelalaian bukan sekadar lupa biasa, tetapi kelengahan yang dibiarkan.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala mencela sifat lalai dalam Al-Qur’an dan mengabarkan bahwa kelalaian termasuk akhlak yang tercela, bahkan merupakan sifat orang-orang kafir dan munafik. Allah memberikan ancaman yang keras terhadap kelalaian ini.

Dalil tentang Kelalaian

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman dalam Surah Al-A‘raf  ayat 179

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ ۝

Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.

 bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah dari jin dan manusia. Mereka memiliki hati tetapi tidak digunakan untuk memahami kebenaran, memiliki mata tetapi tidak digunakan untuk melihat kebenaran, dan memiliki telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar kebenaran. Mereka diserupakan bahkan lebih sesat daripada binatang ternak, karena merekalah orang-orang yang lalai.

Allah telah menciptakan manusia, mengutus para rasul, dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Namun banyak manusia tidak berusaha memahami kebenaran tersebut. Mereka memiliki penglihatan dan pendengaran, tetapi tidak digunakan untuk menerima hidayah.

Dalam Surah Al-Mulk,

 وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ ۝١٠

Mereka juga berkata, “Andaikan dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), tentulah kami tidak termasuk ke dalam (golongan) para penghuni (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala).

Allah menyebutkan penyesalan orang-orang kafir di hari kiamat. Mereka berkata bahwa seandainya dahulu mereka mau mendengar dan menggunakan akal, niscaya mereka tidak termasuk penghuni neraka. Akal mereka ada, pendengaran mereka ada, tetapi tidak digunakan untuk memahami dan mengamalkan kebenaran.

Allah juga berfirman bahwa kebanyakan manusia lalai terhadap ayat-ayat-Nya. Ayat-ayat Allah mencakup ayat-ayat Al-Qur’an dan ayat-ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta yang seharusnya menambah iman dan ketaatan.

Dalam Surah Yunus Ayat 7

إِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَآءَنَا وَرَضُوا۟ بِٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَٱطْمَأَنُّوا۟ بِهَا وَٱلَّذِينَ هُمْ عَنْ ءَايَٰتِنَا غَٰفِلُونَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami . 

Allah menjelaskan tentang orang-orang yang tidak berharap bertemu dengan Allah, merasa tenang dengan kehidupan dunia, dan lalai dari ayat-ayat Allah. Tempat kembali mereka adalah neraka karena apa yang mereka usahakan.

Allah juga menyebutkan dalam Surah Ar-Rum ayat 7 

يَعْلَمُونَ ظَٰهِرًا مِّنَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ ٱلْءَاخِرَةِ هُمْ غَٰفِلُونَ

Artinya: Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.

bahwa manusia mengetahui urusan dunia, tetapi lalai terhadap kehidupan akhirat. Mereka menguasai ilmu dunia, namun tidak memahami tauhid, makna syahadat, rukun iman, rukun Islam, dan konsekuensi mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka tidak mengetahui tata cara ibadah seperti wudhu dan shalat, tidak memahami Al-Qur’an, dan tidak mau belajar agama. Inilah orang yang lalai: mengetahui kebodohannya tetapi enggan belajar, sehingga menjadi bodoh dan sombong sekaligus.

Perintah Berdzikir dan Larangan Lalai

Allah Subhanahu wa Ta‘ala memerintahkan hamba-Nya untuk tidak lalai, dan menyuruh untuk banyak berdzikir. Allah berfirman agar hamba-Nya mengingat Allah dengan merendahkan diri, dengan suara yang perlahan, di waktu pagi dan petang, serta tidak termasuk orang-orang yang lalai.

Allah juga memerintahkan orang-orang beriman untuk berdzikir kepada-Nya dengan dzikir yang banyak dan bertasbih di waktu pagi dan petang.

Dzikir yang benar mencakup tiga hal:

Dzikir tidak dilakukan dengan suara keras, apalagi menggunakan pengeras suara. Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dzikir dilakukan masing-masing dengan suara pelan. Ketika ada sahabat yang mengeraskan suara dzikir, Nabi menegur dan menyatakan bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat.

Al-Qur’an sebagai Dzikir Terbesar

Membaca Al-Qur’an adalah dzikir yang paling agung. Allah berfirman bahwa Al-Qur’an adalah dzikir dan Allah sendiri yang menjaganya.

Seorang muslim tidak boleh lalai dari membaca Al-Qur’an setiap hari, betapapun sibuknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia tersibuk, namun tetap membaca Al-Qur’an. Para sahabat pun demikian.

para sahabat yang melalaikan mereka baca Al Qur'an adalah amal sholeh, sebagaimana ungkapan Khalid bin Walid : Khalid bin Walid, panglima perang yang tangguh, pernah mengungkapkan penyesalannya karena kesibukan jihad mencegahnya membaca Al-Qur'an. Beliau berkata, "Sungguh jihad di jalan Allah telah menyibukkan aku dari banyak membaca Al-Quran" (HR. Ibnu Abi Syaibah 6/151)

sekarang kaum muslimin yang menyibukan mereka dari membaca Al qur'an Adalah : Hp,pekerjaan, dunia dan permainan. jangan lalai kaum muslimin

Al-Qur’an akan memberikan syafaat bagi pembacanya di hari kiamat. Maka tidak ada alasan untuk meninggalkannya karena urusan dunia.

Kelalaian dan Malas

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa dua sebab terbesar yang menghalangi seorang hamba dari kebaikan dunia dan akhirat adalah:

  • Lalai, yang bertentangan dengan ilmu

  • Malas, yang bertentangan dengan kemauan yang kuat

Lalai dan malas adalah bencana bagi seorang hamba dan penghalang dari kebahagiaan dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah dari sifat malas.

Orang yang tahu kewajiban tetapi tidak melaksanakannya karena malas, itulah lalai. Ia tahu keutamaan membaca Al-Qur’an, tetapi tidak membacanya. Tahu keutamaan dzikir, tetapi meninggalkannya. Tahu kewajiban berbuat baik kepada orang tua dan tetangga, tetapi enggan melaksanakannya.

Nasihat Penutup

Hati yang lalai adalah tempat bersarangnya setan. Setan senang membisikkan was-was dan melalaikan manusia. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu, seorang dai, dan setiap muslim tidak boleh lalai.

Waktu yang telah berlalu tidak akan kembali. Waktu yang akan datang tidak kita ketahui. Yang kita miliki hanyalah hari ini. Maka kerjakan kewajiban hari ini, jangan menunda amal.

Tujuan hidup kita adalah surga, bukan dunia. Dunia hanyalah sarana. Maka jangan lalai dan jangan malas.

Subhanallah wa bihamdih.
Asyhadu alla ilaha illallah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Disalin dari kajian Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas - Rahimahullahu Ta'aala -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Andai Ini Ramadhan Terakhirku - Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA

 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsan...