Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi wassalatu wassalamu ala Rasulillah wa ala alihi wa sahbihi. Billahi wa ba’du.
Baik, kita akan lanjutkan kajian kita. Biasanya membahas Kitabut Tauhid, namun karena sebentar lagi kita menyongsong bulan Ramadan, maka beberapa pertemuan ke depan kita akan membahas seputar penyongsong bulan Ramadan.
Ada banyak perkara yang menjadikan Ramadan istimewa dibandingkan bulan-bulan lainnya. Inilah yang akan kita bahas secara ringkas pada pertemuan malam ini.
Pertama, di bulan Ramadan ada ibadah puasa.
Puasa merupakan salah satu dari rukun Islam sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Buniyal Islamu ‘ala khamsin”, dibangun Islam di atas lima perkara, salah satunya adalah puasa Ramadan.
Kedua, puasa Ramadan adalah puasa wajib.
Berbeda dengan puasa sunah seperti Senin Kamis, Ayyamul Bidh, atau puasa Daud. Puasa Ramadan tidak boleh ditinggalkan. Jika ditinggalkan tanpa uzur maka berdosa.
Puasa adalah ibadah yang dinasabkan langsung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Segala sesuatu yang disandarkan kepada Allah adalah sesuatu yang mulia. Seperti Ka’bah yang disebut Baitullah, karena dinasabkan kepada Allah maka ia memiliki keistimewaan dibanding tempat lainnya.
Puasa juga demikian. Dalam hadis qudsi Allah berfirman:
“Setiap amalan anak Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
Karena puasa dinasabkan kepada Allah, pahalanya disimpan langsung oleh Allah dan tidak bisa dirampas pada hari kiamat.
Pada hari kiamat, orang-orang yang dizalimi akan mengambil pahala orang yang menzalimi mereka: pahala salat, sedekah, haji, zikir, dan bacaan Al-Qur’an. Namun pahala puasa tidak akan diberikan, karena puasa adalah milik Allah semata.
Inilah keistimewaan puasa.
Ketiga, Rasulullah ﷺ sangat bergembira menyambut bulan Ramadan.
Beliau tidak menunjukkan kegembiraan seperti itu pada bulan-bulan lainnya. Ketika Ramadan akan datang, Rasulullah ﷺ mengumpulkan para sahabat dan bersabda:
"Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya."
Ini menunjukkan besarnya kedudukan Ramadan di sisi Rasulullah ﷺ.
Keempat, Ramadan adalah bulan ampunan.
Ampunan Allah meluas di siang dan malam hari. Di siang hari dengan puasa, di malam hari dengan salat tarawih, dan ada satu malam istimewa yaitu Lailatul Qadar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya.
Barang siapa salat malam di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya.
Barang siapa menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya.
Tidak ada bulan selain Ramadan yang ampunannya mencakup siang dan malam.
Kelima, Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an.
Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadan, dan lebih khusus lagi pada malam Lailatul Qadar.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan sekaligus dari Lauhil Mahfuz ke langit dunia, dan permulaan wahyu kepada Nabi ﷺ juga terjadi di bulan Ramadan melalui turunnya ayat-ayat awal Surah Al-‘Alaq.
Inilah yang menjadikan Ramadan disebut sebagai Syahrul Qur’an.
Keenam, di bulan Ramadan terdapat Lailatul Qadar.
Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam yang penuh keberkahan, malaikat turun ke bumi, dan ditetapkan takdir satu tahun ke depan.
Barang siapa terhalang dari kebaikan malam itu, maka sungguh ia terhalang dari kebaikan yang besar.
Ketujuh, puasa Ramadan yang diikuti puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan puasa setahun penuh.
Karena satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali, maka puasa Ramadan dan enam hari Syawal bernilai puasa setahun.
Kedelapan, puasa adalah sarana penyucian jiwa.
Puasa melatih kita menjaga lisan, perbuatan, dan akhlak. Jika seseorang berpuasa namun tetap berkata dusta dan berbuat maksiat, maka puasanya tidak bernilai di sisi Allah.
Puasa seharusnya melahirkan akhlak mulia.
Kesembilan, puasa menumbuhkan kepekaan sosial.
Dengan merasakan lapar dan haus, kita merasakan penderitaan orang miskin. Ini menumbuhkan empati dan semangat berbagi.
Kesepuluh, puasa melahirkan sikap zuhud terhadap dunia.
Kenikmatan dunia ditinggalkan sementara, sehingga jiwa terbiasa tidak bergantung pada dunia.
Kesebelas, di bulan Ramadan ada salat tarawih.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang salat tarawih bersama imam hingga selesai, maka dicatat baginya pahala seperti salat semalam suntuk.
Keduabelas, umrah di bulan Ramadan pahalanya setara dengan haji bersama Rasulullah ﷺ.
Ketigabelas, disunahkan iktikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan.
Iktikaf adalah sunnah muakkadah yang dilakukan Rasulullah ﷺ hingga wafat.
Keempatbelas, dianjurkan memberi makan orang yang berpuasa.
Orang yang memberi makan orang berpuasa akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang tersebut.
Kelimabelas, bau mulut orang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kasturi.
Keenambelas, puasa dan Al-Qur’an akan menjadi syafaat pada hari kiamat.
Ketujuhbelas, Ramadan meningkatkan ketakwaan.
Dengan puasa di siang hari dan salat di malam hari, ketakwaan seorang hamba meningkat.
Kedelapanbelas, doa orang berpuasa mustajab, terutama saat berbuka.
Dan di setiap hari dan malam Ramadan, Allah membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka.
Kesembilanbelas, Ramadan adalah bulan kedermawanan.
Rasulullah ﷺ adalah orang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin bertambah di bulan Ramadan.
Keduapuluh, orang berpuasa memiliki dua kebahagiaan:
kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat bertemu Rabbnya.
Keduapuluh satu, puasa melatih lisan dan perbuatan.
Jika dicaci atau diajak bertengkar, orang yang berpuasa diperintahkan berkata, “Aku sedang berpuasa.”
Keduapuluh dua, puasa adalah perisai dari api neraka.
Keduapuluh tiga, Ramadan adalah bulan jihad.
Jihad melawan setan, hawa nafsu, dan musuh-musuh Islam.
Keduapuluh empat, Ramadan adalah bulan perubahan.
Iman meningkat, masjid ramai, sedekah melimpah, dan Al-Qur’an dibaca di mana-mana. Jika Ramadan tidak mengubah kita, maka ada yang salah pada diri kita.
Keduapuluh lima, Ramadan adalah bulan rahmat.
Penuh ampunan, keberkahan, dan kasih sayang Allah. Allah membuka peluang sebesar-besarnya untuk mengumpulkan pahala sebagai bekal menghadap-Nya.
Inilah sebagian keistimewaan bulan Ramadan. Masih banyak pembahasan lain yang insyaallah akan kita lanjutkan pada pertemuan-pertemuan berikutnya.
Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.
Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar