Perhatikan
hadits dari Abu Hurairah z, dia berkata, ‘Tatkala Ramadhan tiba, Rasûlullâh ﷺ bersabda,
قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ
افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ
وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ
لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنَ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
“Telah datang kepada kalian Ramadhan, BULAN MUBARAK
(bulan yang diberkahi). Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya.
Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup.
Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik
dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia
terhalangi.” (HR. Ahmad, shahih)
Dampak dari dibukanya pintu surga itu nyata dalam
kehidupan kita. Kita merasakan kekhusyukan, semangat ibadah, masjid-masjid yang
ramai, dan suasana yang berbeda. Bahkan orang-orang yang biasanya jarang ke
masjid pun ikut hadir. Media, televisi, dan kehidupan sosial pun berubah.
Itulah bukti bahwa Ramadan adalah bulan yang luar biasa,
bulan penuh keberkahan, dan waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Imam Ibnu Qayyim رحمه الله berkata, siapa yang di bulan Ramadan
terhalang dari ketaatan, seakan-akan dia terhalang dari semua kebaikan. Jika
Ramadan saja tidak mampu melahirkan ketaatan, lalu di bulan apa lagi ia
berharap?
Jika di bulan Ramadan seseorang tidak khatam Al-Qur’an,
maka hendaknya ia bertanya pada dirinya sendiri: “Di bulan apa lagi aku akan
khatam?” Padahal di bulan Ramadan setan dibelenggu, pintu surga dibuka, neraka
ditutup, dan semua unsur pendukung ketaatan dihadirkan oleh Allah. Jika Ramadan
saja tidak mampu, maka di bulan lain akan lebih berat.
Begitu pula sedekah. Jika di bulan Ramadan seseorang
tidak mampu bersedekah dengan ringan, seperti angin sepoi-sepoi, maka di bulan
mana lagi ia berharap menjadi dermawan?
Jika di bulan Ramadan seseorang tidak mampu menjaga
tarawih—yang hakikatnya adalah tahajud—lalu kapan ia akan terbiasa bangun
malam? Ramadan sejatinya adalah sarana disiplin untuk istiqamah.
Begitu pula sedekah. Jika di bulan Ramadan seseorang
tidak mampu bersedekah dengan ringan, seperti angin sepoi-sepoi, maka di bulan
mana lagi ia berharap menjadi dermawan?
Jika di bulan Ramadan seseorang tidak mampu menjaga
tarawih—yang hakikatnya adalah tahajud—lalu kapan ia akan terbiasa bangun
malam? Ramadan sejatinya adalah sarana disiplin untuk istiqamah.
Para ulama memberikan analogi sederhana. Jika Allah
mengizinkan kita shalat di depan Ka’bah dengan jarak hanya beberapa langkah,
namun kita tetap tidak khusyuk—masih memikirkan dunia, pekerjaan, dan urusan
lain—maka di mana lagi kita berharap bisa khusyuk?
Inilah yang membuat kita memahami bahwa Ramadan adalah
parameter keimanan.
Maka jika ada yang bertanya, “Ustaz, kenapa masih banyak
dosa di bulan Ramadan?” Para ulama salaf menjelaskan: jika di bulan Ramadan
masih ada zina, khamr, judi, dan maksiat lain, maka bukan setan lagi yang patut
disalahkan. Itu tanda hawa nafsu sudah menguasai hati. Yang rusak bukan
setannya, tapi nafsunya.
Jika ingin mengukur apakah hawa nafsu sudah mendominasi
atau belum, lihat Ramadan kita. Jika Ramadan masih diisi maksiat, maka jelas
masalahnya ada pada diri kita.
Ramadan adalah bulan transaksi besar. Kita semua adalah
pedagang, barang dagangan kita adalah amal saleh, pembelinya adalah Allah, dan
alat tukarnya adalah surga seluas langit dan bumi. Dan Allah paling menyukai
transaksi yang dilakukan di bulan Ramadan.
Karena itu jangan main-main dengan bulan ini. Ramadan
adalah perputaran luar biasa dalam hidup kita.
Para ulama menjelaskan bahwa manusia dalam menyikapi
Ramadan terbagi menjadi empat golongan. Bukan untuk menilai orang lain, tapi
untuk bercermin pada diri sendiri.
Golongan pertama adalah mereka yang menjalani Ramadan
dengan datar. Tidak ada rasa bahagia, bahkan mengeluh karena tidak bisa makan
siang, tidak bisa ngopi, dan merasa Ramadan mengganggu rutinitas duniawinya.
Golongan kedua adalah mereka yang semangat di awal
Ramadan, namun turun drastis di pertengahan dan akhir. Awalnya tilawah banyak,
lalu perlahan menghilang.
Golongan ketiga adalah mereka yang naik turun. Kadang
semangat, kadang futur. Ada yang hanya hidup di malam-malam ganjil, seolah
Allah hanya ada di malam ganjil, padahal Rabb yang disembah di malam ganjil
sama dengan Rabb yang disembah di malam genap.
Golongan keempat adalah mereka yang semakin hari semakin
meningkat. Sepuluh hari pertama semangat, sepuluh hari kedua lebih semangat,
dan sepuluh hari terakhir jauh lebih semangat. Inilah Ramadan Rasulullah ﷺ dan para sahabat.
Perbedaan sikap manusia terhadap Ramadan sejatinya
menunjukkan kondisi hati mereka.
Para ulama mengibaratkan seperti orang menilai jam antik.
Objeknya sama, tapi harga yang diberikan berbeda-beda, tergantung pemahaman dan
referensi orang yang melihatnya. Begitu pula Ramadan. Ada yang melihatnya
sebagai beban, ada yang melihatnya sebagai peluang, dan ada yang melihatnya
sebagai investasi akhirat yang luar biasa.
Sebagian orang mencintai Ramadan karena hatinya adalah
kolektor surga. Dunia baginya hanya bekal.
Seberapa besar rindu seseorang kepada surga, sebesar itu
pula cintanya kepada Ramadan.
Ramadan adalah program langit. Ia memiliki pintu khusus
di surga, yaitu pintu Ar-Rayyan. Maka tugas kita bukan menduniakan Ramadan,
tetapi melangitkannya.
Ramadan adalah jalan pemutihan. Allah membakar dosa-dosa
di bulan ini. Tidak ada bulan di mana Allah membebaskan hamba dari neraka
sebanyak di bulan Ramadan.
Karena itu zikir yang diajarkan Nabi ﷺ di bulan Ramadan adalah:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni.”
Ramadan tidak pilih kasih. Ia berlaku untuk orang saleh
maupun pendosa. Ramadan adalah kesempatan semua orang untuk kembali.
Kita boleh pendosa, tapi jangan menjadi pendosa yang
membenci Ramadan. Jangan menjadi pendosa yang tidak bergembira dengan datangnya
Ramadan.
Persiapkan Ramadan dengan ilmu, jauhi perdebatan yang
memecah belah, jaga hati dari merasa paling saleh, dan siapkan rencana cadangan
amal—seperti memberi makan orang berbuka—agar Ramadan kita tetap bernilai meski
ada kekurangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar