Selasa, 10 Februari 2026

JIKA RAMADHAN TIBA..

 

Perhatikan hadits dari Abu Hurairah z, dia berkata, ‘Tatkala Ramadhan tiba, Rasûlullâh bersabda,

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنَ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, BULAN MUBARAK (bulan yang diberkahi). Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad, shahih)

 

Dampak dari dibukanya pintu surga itu nyata dalam kehidupan kita. Kita merasakan kekhusyukan, semangat ibadah, masjid-masjid yang ramai, dan suasana yang berbeda. Bahkan orang-orang yang biasanya jarang ke masjid pun ikut hadir. Media, televisi, dan kehidupan sosial pun berubah.

Itulah bukti bahwa Ramadan adalah bulan yang luar biasa, bulan penuh keberkahan, dan waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Imam Ibnu Qayyim رحمه الله berkata, siapa yang di bulan Ramadan terhalang dari ketaatan, seakan-akan dia terhalang dari semua kebaikan. Jika Ramadan saja tidak mampu melahirkan ketaatan, lalu di bulan apa lagi ia berharap?

Jika di bulan Ramadan seseorang tidak khatam Al-Qur’an, maka hendaknya ia bertanya pada dirinya sendiri: “Di bulan apa lagi aku akan khatam?” Padahal di bulan Ramadan setan dibelenggu, pintu surga dibuka, neraka ditutup, dan semua unsur pendukung ketaatan dihadirkan oleh Allah. Jika Ramadan saja tidak mampu, maka di bulan lain akan lebih berat.

Begitu pula sedekah. Jika di bulan Ramadan seseorang tidak mampu bersedekah dengan ringan, seperti angin sepoi-sepoi, maka di bulan mana lagi ia berharap menjadi dermawan?

Jika di bulan Ramadan seseorang tidak mampu menjaga tarawih—yang hakikatnya adalah tahajud—lalu kapan ia akan terbiasa bangun malam? Ramadan sejatinya adalah sarana disiplin untuk istiqamah.

Begitu pula sedekah. Jika di bulan Ramadan seseorang tidak mampu bersedekah dengan ringan, seperti angin sepoi-sepoi, maka di bulan mana lagi ia berharap menjadi dermawan?

Jika di bulan Ramadan seseorang tidak mampu menjaga tarawih—yang hakikatnya adalah tahajud—lalu kapan ia akan terbiasa bangun malam? Ramadan sejatinya adalah sarana disiplin untuk istiqamah.

Para ulama memberikan analogi sederhana. Jika Allah mengizinkan kita shalat di depan Ka’bah dengan jarak hanya beberapa langkah, namun kita tetap tidak khusyuk—masih memikirkan dunia, pekerjaan, dan urusan lain—maka di mana lagi kita berharap bisa khusyuk?

Inilah yang membuat kita memahami bahwa Ramadan adalah parameter keimanan.

Maka jika ada yang bertanya, “Ustaz, kenapa masih banyak dosa di bulan Ramadan?” Para ulama salaf menjelaskan: jika di bulan Ramadan masih ada zina, khamr, judi, dan maksiat lain, maka bukan setan lagi yang patut disalahkan. Itu tanda hawa nafsu sudah menguasai hati. Yang rusak bukan setannya, tapi nafsunya.

Jika ingin mengukur apakah hawa nafsu sudah mendominasi atau belum, lihat Ramadan kita. Jika Ramadan masih diisi maksiat, maka jelas masalahnya ada pada diri kita.

Ramadan adalah bulan transaksi besar. Kita semua adalah pedagang, barang dagangan kita adalah amal saleh, pembelinya adalah Allah, dan alat tukarnya adalah surga seluas langit dan bumi. Dan Allah paling menyukai transaksi yang dilakukan di bulan Ramadan.

Karena itu jangan main-main dengan bulan ini. Ramadan adalah perputaran luar biasa dalam hidup kita.

Para ulama menjelaskan bahwa manusia dalam menyikapi Ramadan terbagi menjadi empat golongan. Bukan untuk menilai orang lain, tapi untuk bercermin pada diri sendiri.

Golongan pertama adalah mereka yang menjalani Ramadan dengan datar. Tidak ada rasa bahagia, bahkan mengeluh karena tidak bisa makan siang, tidak bisa ngopi, dan merasa Ramadan mengganggu rutinitas duniawinya.

Golongan kedua adalah mereka yang semangat di awal Ramadan, namun turun drastis di pertengahan dan akhir. Awalnya tilawah banyak, lalu perlahan menghilang.

Golongan ketiga adalah mereka yang naik turun. Kadang semangat, kadang futur. Ada yang hanya hidup di malam-malam ganjil, seolah Allah hanya ada di malam ganjil, padahal Rabb yang disembah di malam ganjil sama dengan Rabb yang disembah di malam genap.

Golongan keempat adalah mereka yang semakin hari semakin meningkat. Sepuluh hari pertama semangat, sepuluh hari kedua lebih semangat, dan sepuluh hari terakhir jauh lebih semangat. Inilah Ramadan Rasulullah dan para sahabat.

Perbedaan sikap manusia terhadap Ramadan sejatinya menunjukkan kondisi hati mereka.

Para ulama mengibaratkan seperti orang menilai jam antik. Objeknya sama, tapi harga yang diberikan berbeda-beda, tergantung pemahaman dan referensi orang yang melihatnya. Begitu pula Ramadan. Ada yang melihatnya sebagai beban, ada yang melihatnya sebagai peluang, dan ada yang melihatnya sebagai investasi akhirat yang luar biasa.

Sebagian orang mencintai Ramadan karena hatinya adalah kolektor surga. Dunia baginya hanya bekal.

Seberapa besar rindu seseorang kepada surga, sebesar itu pula cintanya kepada Ramadan.

Ramadan adalah program langit. Ia memiliki pintu khusus di surga, yaitu pintu Ar-Rayyan. Maka tugas kita bukan menduniakan Ramadan, tetapi melangitkannya.

Ramadan adalah jalan pemutihan. Allah membakar dosa-dosa di bulan ini. Tidak ada bulan di mana Allah membebaskan hamba dari neraka sebanyak di bulan Ramadan.

Karena itu zikir yang diajarkan Nabi di bulan Ramadan adalah:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni.”

Ramadan tidak pilih kasih. Ia berlaku untuk orang saleh maupun pendosa. Ramadan adalah kesempatan semua orang untuk kembali.

Kita boleh pendosa, tapi jangan menjadi pendosa yang membenci Ramadan. Jangan menjadi pendosa yang tidak bergembira dengan datangnya Ramadan.

Persiapkan Ramadan dengan ilmu, jauhi perdebatan yang memecah belah, jaga hati dari merasa paling saleh, dan siapkan rencana cadangan amal—seperti memberi makan orang berbuka—agar Ramadan kita tetap bernilai meski ada kekurangan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Andai Ini Ramadhan Terakhirku - Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA

 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsan...