Selasa, 10 Februari 2026

JANGAN MENYIA NYIAKAN WAKTU < RAMADHAN >

 JANGAN MENYIA NYIAKAN WAKTU < RAMADHAN > 


Ada banyak sekali dalil yang menunjukkan betapa pentingnya waktu bagi hamba.

Di antaranya adalah Allah menjadikan waktu sebagai sumpah.

Apa dalilnya? Allah berfirman:

Wal ‘ashr, innal insaana lafii khusr.
Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan rugi.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta‘ala menyebutkan orang-orang yang dikecualikan, yaitu mereka yang beriman dan beramal saleh sampai akhir surat.
Mengapa Allah bersumpah dengan waktu? Karena ketika Allah hendak menyebutkan bahwa semua manusia pasti rugi, waktu adalah modal utama bagi setiap hamba.

Waktu merupakan modal utama bagi setiap hamba. Dengan waktu, seseorang bisa berbuat ketaatan dan juga bisa melakukan maksiat. Jika seseorang tidak memiliki waktu, maka dia tidak punya kesempatan untuk beraktivitas. Karena itulah manusia bisa beraktivitas mendapatkan pahala, dan sebaliknya juga bisa mendapatkan dosa, sebab dia punya waktu dan kesempatan. Maka waktu adalah modal.

Dalam sebuah hadis riwayat Tirmidzi, Nabi ﷺ mengingatkan bahwa kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ia ditanya oleh Allah tentang empat perkara. Salah satunya adalah tentang umurnya, untuk apa ia gunakan.

Jika kita berbicara tentang umur, hakikatnya kita sedang berbicara tentang waktu. Umur adalah waktu yang Allah berikan kepada kita. Setiap detik yang kita gunakan akan dimintai pertanggungjawaban. Kesadaran inilah yang perlu dibangun, karena menyia-nyiakan waktu akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Orang yang sadar bahwa dirinya akan dimintai pertanggungjawaban akan lebih berhati-hati dalam menggunakan waktu. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki kesadaran ini akan cenderung meremehkan waktu.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

Nikmatani maghbunun fihima katsirun minan naas.

Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengannya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang. Banyak orang menyepelekan keduanya, padahal keduanya adalah nikmat yang sangat istimewa. Orang yang tidak mengetahui nilai pentingnya waktu akan menyia-nyiakannya.

Karena itu, para ulama sangat memperhatikan waktu mereka. Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah akan menolongnya dalam memaksimalkan waktunya dan menjadikan waktunya sebagai penolong dalam ketaatan. Sebaliknya, jika Allah menghendaki keburukan bagi seorang hamba, maka waktunya akan disia-siakan dan disesali.

Ukuran seseorang dikehendaki kebaikan oleh Allah dapat dilihat dari kesibukannya. Jika ia sibuk dalam kebaikan, itu tanda kebaikan. Jika sibuk dalam hal yang sia-sia, maka itu tanda sebaliknya.

Ibnu Qayyim juga menasihatkan bahwa setiap orang wajib memiliki perencanaan terhadap waktunya. Orang yang berilmu sejati adalah orang yang selalu menjaga waktunya dan berpikir apa yang bisa ia lakukan pada setiap waktu yang dimiliki.

Menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan modal hidup. Seperti orang berdagang yang kehabisan modal, ia tidak akan mampu melanjutkan usahanya.

Para sahabat pun sangat menyesali hari yang berlalu tanpa tambahan amal. Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa tidak ada penyesalan yang lebih besar baginya selain ketika matahari terbenam sementara umurnya berkurang dan amalnya tidak bertambah.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa orang yang menganggur, tidak sibuk dengan urusan dunia maupun akhirat, adalah sasaran empuk godaan setan.

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata bahwa hakikat manusia adalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dirinya telah hilang. Karena itu waktu harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Beliau juga mengatakan bahwa para ulama terdahulu sangat pelit terhadap waktu mereka, bahkan lebih pelit daripada terhadap harta.

Ramadan adalah momentum yang sangat berharga. Tidak ada Ramadan yang berulang dalam satu tahun yang sama. Maka sangat merugi jika Ramadan berlalu tanpa amal yang bermakna.

Ibadah ada yang waktunya ditetapkan, seperti salat dan puasa, dan ada pula yang tidak ditetapkan waktunya, seperti zikir, membaca Al-Qur’an, salat sunnah, dan sedekah. Karena itu, sejatinya tidak ada waktu kosong bagi seorang muslim.

Seorang muslim selalu punya peluang untuk mendapatkan pahala. Jika tidak bisa membaca Al-Qur’an, bisa berzikir. Jika tidak berzikir, bisa bershalawat. Jika lelah, bisa mendengarkan kajian atau murattal.

Tantangan terbesar dalam memaksimalkan waktu ada dua: teman dan malas. Teman seringkali menjadi sebab habisnya waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Malas pun menjadi penghalang besar, dan obatnya adalah komitmen.

Para ulama dikenal memiliki waktu istirahat yang sedikit karena mereka memiliki cita-cita yang tinggi. Siapa yang cita-citanya tinggi, maka istirahatnya sedikit.

Tidur yang paling penting bukan banyaknya, tetapi kualitasnya. Tidur yang berkualitas akan menghilangkan lelah dan penat. Untuk itu, dianjurkan menjaga adab sebelum tidur agar tidur menjadi lebih maksimal.

Selain istirahat fisik, manusia juga membutuhkan istirahat psikis. Kuncinya adalah tawakal kepada Allah dan tidak mudah baper dalam interaksi dengan manusia.

Demikian kajian ini disampaikan. Semoga bermanfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih menghargai waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Andai Ini Ramadhan Terakhirku - Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA

 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsan...