Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Pada kesempatan yang mulia ini, mari kita merenungkan salah satu ajaran Islam yang sangat agung, yang menjadi sumber ketenangan jiwa dan kekuatan iman, yaitu berprasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Isi Ceramah
Hadirin sekalian,
Hadis yang akan kita bahas adalah Hadis Qudsi, yaitu hadis yang lafaznya disampaikan oleh Rasulullah ﷺ, tetapi maknanya langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satu ciri Hadis Qudsi adalah Rasulullah ﷺ bersabda, kemudian Allah berfirman.
Dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah berfirman:
“Ana ‘inda zanni ‘abdi bi.”
Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku.
Kalimat ini sangat dalam maknanya. Allah memperlakukan seorang hamba sesuai dengan prasangkanya kepada Allah. Jika seorang hamba berprasangka baik, maka kebaikanlah yang akan ia dapatkan. Namun jika ia berprasangka buruk, maka keburukanlah yang akan ia rasakan.
Ketika kita mendapatkan nikmat—sehat, rezeki, keluarga, dan kebahagiaan—lalu kita berprasangka baik kepada Allah dan bersyukur, itu adalah hal yang mudah dilakukan oleh banyak orang.
Namun yang berat adalah ketika seseorang diuji dengan musibah: sakit, kehilangan harta, kegagalan usaha, atau cobaan hidup lainnya. Di sinilah kualitas iman seorang mukmin diuji. Jika ia tetap berprasangka baik dan berkata, “Mungkin Allah sedang menghapus dosa-dosaku, atau meninggikan derajatku,” maka kebaikan itulah yang akan ia dapatkan.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Dalam Hadis Qudsi yang lain, Allah memberikan kabar gembira kepada seluruh manusia. Allah berfirman:
“Wahai anak Adam, janganlah engkau takut kepada siapa pun yang memiliki kekuasaan, selama kekuasaan-Ku masih ada. Ketahuilah bahwa kekuasaan-Ku tidak akan pernah punah.”
“Wahai anak Adam, janganlah engkau takut dengan kesempitan rezeki, karena perbendaharaan-Ku penuh dan tidak akan pernah habis.”
“Wahai anak Adam, Aku menciptakan engkau untuk beribadah, maka janganlah engkau main-main. Aku telah menentukan rezekimu, maka janganlah engkau bersusah payah secara berlebihan.”
Allah kemudian berfirman:
“Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, jika engkau ridha dengan pemberian-Ku, Aku akan menenangkan jiwa dan ragamu, dan engkau akan mulia di sisi-Ku. Namun jika engkau tidak ridha, Aku akan membuatmu mengejar dunia, seperti hewan buas yang mengejar mangsanya. Tetapi engkau tidak akan mendapatkan kecuali apa yang telah Aku takdirkan.”
Hadirin sekalian,
Inilah rahasia ketenangan hidup. Orang yang ridha dengan ketetapan Allah akan hidup tenang, jiwanya damai, dan hatinya lapang. Sebaliknya, orang yang tidak ridha akan terus lelah mengejar dunia, namun tidak pernah merasa cukup.
Allah juga berfirman:
“Wahai anak Adam, Aku telah menciptakan langit dan bumi, dan Aku tidak pernah merasa sulit menciptakannya. Maka apakah engkau mengira Aku akan sulit mengurus rezekimu?”
“Wahai anak Adam, janganlah engkau meminta rezeki untuk hari esok, sebagaimana Aku tidak pernah meminta kepadamu amal untuk hari esok.”
“Wahai anak Adam, sesungguhnya Aku mencintaimu, maka cintailah Aku.”
Makna mencintai Allah adalah tunduk kepada perintah-Nya, menjalankan apa yang diperintahkan, dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.
Hadirin yang berbahagia,
Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata bahwa beliau hidup tenang karena dua hal: beliau tahu bahwa ajalnya sudah ditentukan oleh Allah, dan rezekinya pun telah ditentukan oleh Allah. Maka tidak ada alasan untuk gelisah atau iri terhadap rezeki orang lain.
Jika kita gagal mendapatkan sesuatu, maka yakinlah bahwa itu belum rezeki kita. Karena sekuat apa pun usaha manusia, ia tidak akan mendapatkan sesuatu yang tidak Allah takdirkan untuknya.
Penutup
Hadirin yang dirahmati Allah,
Mari kita perbaiki prasangka kita kepada Allah. Apa pun yang kita hadapi dalam hidup ini, yakinlah bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang selalu berprasangka baik, ridha terhadap ketetapan-Nya, dan diberi ketenangan jiwa di dunia serta keselamatan di akhirat.
Akhir kata,
Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu an la ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar